|
Ustaz Abu Muhammad Harits,
|
24 Jun 2013
|
Dengan pembebasan kota Makkah, jatuhlah sudah kerajaan berhala di
tanah hijaz. Bangsa Arab mulai tunduk kepada Islam, dan mereka
berduyun-duyun masuk ke dalamnya. Suku Hawazin yang mendengar peristiwa
itu, merasa bimbang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan
mengerahkan pasukan kepada mereka. Mereka pun bersatu untuk menyerang
baginda. Peristiwa ini pun meletus di Hunain, sebuah lembah yang
terletak antara Makkah dan Thaif, pada bulan Syawal tahun ke-8 Hijrah.
Sebab-sebab PeperanganSetelah
Allah Subhanahuwata’la memberi kemenangan kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam dan kaum mukminin dengan takluknya Makkah, serta
tunduknya masyarakat Quraisy, penduduk Tsaqif dan Hawazin pun ketakutan.
Mereka yakin bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentu akan
menyiapkan pasukan menyerang mereka. Maka sebelum itu terjadi, mereka
bertekad untuk mendahului serangan.
Akhirnya mereka bersepakat
untuk itu dan mengangkat Malik bin ‘Auf An-Nashry sebagai panglima
perang. Dia seorang pemuda berusia sekitar 30 tahun dan dikenal sebagai
ahli perang. Maka berkumpullah suku Hawazin, Tsaqif, Bani Hilal, Bani
Jusyam, dan lain-lain. Di antara mereka ada Duraid bin Ash-Shimmah yang
terkenal sangat ahli dalam peperangan, pendapat dan taktiknya sangat
jitu. Tetapi dia sudah sangat tua dan buta, sehingga hanya dapat
memberikan saranan dan arahan.
Adapun strategi yang diatur oleh
Malik, sangat berbeza dengan keinginan Duraid. Malik berpendapat agar
mereka membawa serta semua anak dan isteri juga harta benda. Menurut
Malik, apabila seorang perajurit mengetahui sesuatu yang berharga dalam
hidupnya (keluarga dan harta) ada di belakangnya, kalaupun terjadi
kekalahan, dia tidak akan mungkin meninggalkan mereka jatuh ke tangan
musuh. Sehingga dia akan berjuang sampai mati mempertahankan harta dan
keluarganya.
Ketika hal ini didengar oleh Duraid, dia bertanya
kepada Malik: “Ada apa ini, saya mendengar suara anak-anak, kaum wanita,
dan binatang ternak dalam pasukanmu?”
Kata Malik: “Saya ingin
menempatkan di belakang setiap laki-laki ada anak, isteri, dan harta
mereka agar dia berperang mempertahankannya.”
Duraid berkata
mencemuh: “(Itulah) penggembala kambing, demi Allah. Bukan untuk perang.
Apakah itu akan dapat membela orang yang kalah? Sungguh, kalau kamu
menang, itu semua tidak berguna bagimu selain laki-laki dan senjata.
Kalau kamu kalah, berarti kmu telah mempermalukan keluarga dan hartamu.”
Tetapi
Malik tetap dengan pendiriannya. Bahkan mengancam: “Wahai masyarakat
Hawazin, kalau kalian tidak mentaatiku, aku akan bunuh diri di depan
kalian.”
Orang-orang Hawazin terkejut, mereka berbisik satu sama
lain: “Kalau kita tinggalkan Malik, dia bunuh diri padahal dia masih
muda. Tapi kalau kita ikuti Duraid, dia sudah tua, tidak ada lagi perang
bersama dia.”
Akhirnya mereka memilih Malik. Kemudian Malik
berpidato membakar semangat pasukannya: “Sungguh, Muhammad belum pernah
berperang sama sekali sebelum ini. Selama ini dia hanya melawan
orang-orang yang tidak tahu bagaimana berperang, sehingga dapat
mengalahkan mereka. Maka jika kamu bertemu mereka, pecahkan sarung
pedang kamu dan seranglah mereka secara serentak dan tiba-tiba!!”
Akhirnya
mereka pun berangkat membawa serta puluhan ribu ekor unta. Malik
memerintahkan agar kaum wanita dan anak-anak diletakkan di atas
unta-unta tersebut. Dengan cara ini, Malik sudah menjatuhkan mental
lawan yang melihatnya kerana mereka akan mengira di belakangnya ada
ratusan ribu pasukan. Taktik ini adalah salah satu sebab kemenangan
Hawazin pada awal pertempuran.
Malik membawa pasukannya hingga
tiba di lembah Hunain. Daerah ini sudah sangat dikenal oleh Malik
sehingga dia dengan mudah menempatkan pasukannya untuk memusnahkan kaum
muslimin dengan sekali serangan.
Malik mulai membagi pasukannya.
Lembah dan bukit-bukit di sekitarnya menjadi tempat persembunyian dan
perangkap yang sangat baik. Apabila lawan termasuk ke lembah, maka
pasukannya yang ada di kanan kiri bukit akan menghujani mereka dengan
panah dan batu. Apalagi perajurit Hawazin terkenal sebagai ahli panah
dan tombak.
Persiapan Kaum MusliminSebelum
berangkat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menunjuk ‘Attab bin
Usaid bin Abil ‘Uaish bin Umayyah yang ketika itu berusia sekitar 20
tahun tinggal di kota Makkah sebagai ketua dan Mu’adz bin Jabal sebagai
pengajar bagi penduduk Makkah.
Setelah Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam mendengar rencana penyerangan Hawazin ini, beliau
mengirim ‘Abdullah bin Abi Hadrad sebagai mata-mata mengintai sejauh
mana kesiapan orang-orang kafir tersebut. Lalu berangkatlah ‘Abdullah
dan tinggal di tengah-tengah mereka sehari semalam atau lebih.
Tidak
lama kemudian, ‘Abdullah kembali menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam dan menceritakan apa yang dilihatnya. Tetapi boleh jadi
maklumat yang disampaikannya tidak lengkap. Ada beberapa hal yang tidak
tersampaikan oleh ‘Abdullah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam termasuk taktik perang yang akan dilancarkan oleh Malik.
Sehingga kurangnya maklumat ini menjadi salah satu sebab mundurnya
pasukan muslimin pada awal pertempuran.
Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam mulai menyiapkan pasukan. Terkumpullah 10.000 orang
yang sebelumnya ikut bersama beliau dari Madinah untuk membebaskan
Makkah. Kemudian ditambah dua ribu orang daripada penduduk Makkah yang
baru masuk Islam.
Beliau juga meminjam beberapa puluh baju besi
dan senjata kepada Shafwan bin Umayyah dan Naufal bin Al-Harits yang
ketika itu masih musyrik.
Kisah Dzatu AnwathDahulu,
orang-orang kafir Quraisy dan bangsa Arab lainnya mempunyai sebatang
pohon sidr (bidara) yang sangat besar bernama Dzatu Anwath. Kebiasaan
mereka dahulu, selalu menziarahinya setiap tahun dan menggantungkan
senjata mereka di atas pohon itu, mengharapkan berkahnya. Mereka juga
melakukan penyembelihan haiwan korban dan bertafakur selama satu hari di
bawah pohon itu.
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
berangkat menuju Hunain, mereka melewati sebatang pohon yang dipuja
oleh kaum musyrikin bernama Dzatu Anwath. Mereka menggantungkan di
atasnya senjata-senjata mereka.
Maka mereka pun berkata: “Ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka punya Dzatu Anwath.”
Mendengar
perkataan ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berseru: “Subhanallah
(Maha Suci Allah). Ini adalah ucapan yang sama seperti diucapkan Bani
Israil: ’Buatlah untuk kami sebuah sesembahan sebagaimana mereka
mempunyai beberapa sesembahan’.”
“Sungguh ini betul-betul
sunnah. Kamu sungguh-sungguh akan mengikuti sunnah (jalan hidup)
orang-orang sebelum kamu, sedemikian rapatnya.” (HR. At-Tirmidzi dan
Ahmad)Riwayat ini menunjukkan bahwa orang yang selama ini
hidup di lingkungan yang rosak, lalu berpindah daripada lingkungan
tersebut, masih tersisa dalam dirinya sebahagian daripada lingkungan
buruk itu. Apalagi yang belum lama meninggalkan lingkungan buruk
tersebut. Dan kita mesti ingat, kalau para sahabat yang baru masuk Islam
saja demikian keadaannya, padahal mereka mendapat bimbingan langsung di
bawah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka bagaimana dengan
orang-orang yang datang sesudah mereka, yang lebih jahil dan lemah
daripada mereka.
Kenyataan ini juga menunjukkan kepada kita
betapa jijiknya kejahilan (terhadap ilmu agama). Seseorang itu mungkin
saja terjerumus ke dalam kesyirikan kerana kejahilannya.
Pernyataan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa perkataan mereka itu
adalah sunnah yang pernah dijalani oleh umat sebelumnya, memberi
pengertian pula bahwa sebab yang menjerumuskan mereka dalam perbuatan
syirik ini adalah tasyabbuh (meniru) kepada apa yang dianut oleh
kebanyakan orang ketika itu.
Dari kisah ini pula kita pahami
batilnya tabarruk (meminta berkah) kepada pohon-pohn kayu dan batu,
kerana itu semua adalah perbuatan syirik. Apalagi Nabi Musa
‘Alaihissalam berkata, sebagaimana firman Allah Subhanahuwata’ala yang
bermaksud:
“Patutkah aku mencarikan sembahan untuk kamu yang selain daripada Allah.” (Surah al-A’raf : ayat 140)Demikian
pula ungkapan yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam. Beliau menyamakan ucapan sebahagian sahabat yang baru masuk
Islam itu sama seperti perkataan Bani Israil kepada Nabi Musa; kerana
itulah hakikat kesyirikan meskipun lafaznya berbeza.
Seperti ini
juga yang dilakukan oleh para penyembah kubur. Iaitu orang-orang yang
meminta syafaat, berkah, rezeki, jabatan dan sebagainya kepada para
penghuni kubur. Mereka mengatakan bahawa perbuatan mereka adalah
tawassul dan mencintai wali, bukan syirik. Padahal sesungguhnya, para
wali Allah Subhanahuwata’ala tidak redha diperlakukan demikian rupa oleh
mereka.
Dari kisah ini juga kita lihat para sahabat dan Bani
Israil tidak dikafirkan. Sebab, mereka segera berhenti dan tidak
mewujudkan apa yang mereka minta kepada dua rasul yang mulia ini.
Seandainya mereka tetap melanjutkan apa yang mereka minta, nescaya
mereka jatuh kepada kekafiran.
http://www.salafy.or.id