Sabtu, 16 November 2013

Omak Kau!!!!: HEBOH DI ALAM MAYA SEORANG BAPA TIDAK IZINKAN ANAK...

Omak Kau!!!!: HEBOH DI ALAM MAYA SEORANG BAPA TIDAK IZINKAN ANAK...: Kecoh dan heboh mengenai seorang bapa telah mengutus surat kepada Pengetua sebuah Sekolah Menengah Putrajaya Presint 9(2) yang dengan teg...

Omak Kau!!!!: HEBOH SEORANG MURID SEKOLAH RENDAH KEPUTUSAN UPSR ...

Omak Kau!!!!: HEBOH SEORANG MURID SEKOLAH RENDAH KEPUTUSAN UPSR ...: Seorang ayah di Kota Bharu, Kelantan di percayai towkey ayam terlalu gembira apabila anak gadisnya mendapat keputusan cemerlang 5A dalam p...

Harta Karun, Siapa Qarun Zaman Ini? 4 Cirinya.


 
CATATAN SANTAI IBNU HASYIM 
GEMPAR beberapa hari ini kisah 'harta karun' di temui di Aceh. Siapa sebenarnya Qarun itu? 

Qarun adalah kaum Nabi Musa, berkebangsaan Israel, dan bukan berasal dari suku Qibthi (Gypsy, bangsa Mesir). Allah mengutus Musa kepadanya seperti diutusnya Musa kepada Fir'aun dan Haman. Allah telah mengaruniai Qarun harta yang sangat banyak dan perbendaharaan yang melimpah ruah yang banyak memenuhi lemari simpanan. 
Perbendaharaan harta dan lemari-lemari ini sangat berat untuk diangkat kerana beratnya isi kekayaan Qarun., walau diangkat oleh beberapa orang lelaki kuat dan kekar pun.  Mereka masih kewalahan.
Qarun mempergunakan harta ini dalam kesesatan, kezaliman dan permusuhan serta membuatnya sombong. Hal ini merupakan musibah dan bencana bagi kaum kafir dan lemah di kalangan Bani Israil. Dalam memandang Qarun dan harta kekayaannya, Bani Israil terbagi atas dua kelompok. 
Kelompok pertama adalah kelompok orang yang beriman kepada Allah dan lebih mengutamakan apa yang ada di sisi-Nya. Kerana itu mereka tidak terpedaya oleh harta Qarun, dan tidak berangan-angan ingin memilikinya. Bahkan mereka memprotes kesombongan, kesesatan, kerusakan serta berharap agar ia menafkahkan hartanya di jalan Allah dan memberikan kontribusi kepada hamba-hamba Allah yang lain. 
Kelompok kedua ialah, yang terpukau dan tertipu oleh harta Qarun kerana mereka telah kehilangan tolok ukur nilai, landasan dan fondasi yang dapat digunakan untuk menilai Qarun dan hartanya. Mereka menganggap kekayaan Qarun merupakan bukti keridhaan dan kecintaan Allah kepadanya. Maka mereka berangan-angan ingin bernasib seperti itu. Qarun mabuk dan terlena oleh melimpahnya harta dan kekayaan. 

Semua itu membuatnya buta dari kebenaran dan tuli dari nasihat-nasihat orang Mukmin. Ketika mereka meminta Qarun untuk bersyukur kepada Allah SWT di atas, segala nikmat harta kekayaan.. Memintanya untuk memanfaatkan hartanya dalam hal bermanfaat, kabaikan dan hal yang halal, Kerana semua itu adalah harta Allah, ia justru menolak seraya mengatakan..
  •  Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu kerana ilmu yang ada padaku... 
Murkanya Allah SWT atas kesombongan Qarun itu. Suatu hari, keluarlah ia kepada kaumnya dengan kemegahan dan rasa bangga, sombong dan congkak. Maka hancurlah hati orang fakir dan silaulah penglihatan mereka seraya berkata.. 
  • Moga-moga kita memiliki seperti apa diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai untung besar. 
Tetapi orang-orang mukmin yang dianugerahi ilmu, menasihati orang-orang yang tertipu seraya berkata; Celakaan besar kamu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang beriman dan beramal saleh…. Maka, berlakulah sunnatullah atasnya dan murka Allah menimpanya. Hartanya menyebabkan Allah murka, menyebabkan dia hancur, dan datangnya siksa Allah. Maka Allah membenamkan harta dan rumahnya kedalam bumi, kemudian terbelah dan mengangalah bumi. 
Tenggelamlah ia beserta harta miliknya, disaksikan oleh orang-orang Bani Israil. Tidak seorangpun yang dapat menolong dan menahannya dari bencana itu, tidak bermanfaat harta kekayaan dan perbendaharannya. Melihat itu, bertambahlah keimanan orang-orang yang beriman dan sabar. Adapaun mereka yang telah tertipu dan pernah berangan-angan jadi seperti Qarun, akhirnya mengetahui hakikat sebenarnya dan terbukalah tabir, lalu mereka memuji Allah kerana tidak mengalami nasib seperti Qarun. 
Mereka berkata, “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya. Kalau Allah tidak melimpahkan kurnia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).”



Nama Qarun diulang sebanyak empat kali dalam Al-Quran, dua kali dalam surah al-Qashash, satu kali dalam surah al-`Ankabut, dan satu kali dalam surah al-Mu’min. Penyebutan dalam surah al-`Ankabut pada pembahasan singkat tentang pendustaan oleh tiga orang oknum thagut, yaitu Qarun,Fir’aun, dan Haman, lalu Allah menghancurkan mereka. 

  • Dan (juga) Qarun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi, mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). 
  • Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu, kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. 
(al-`Ankabut: 39-40)

Penyebutan dalam surah al-Mu’min (Ghafir) pada kisah pengutusan Musa a.s. kepada tiga orang thagut yang mendustakannya.”Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir’aun, Haman, dan Qarun, maka mereka berkata; 

  • (Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.
(al-Mu’min:23-24)

Kesimpulan:  

Trajis harta yang dikumpulkan Qarun selama bertahun-tahun, seperti emas, perak, binatang ternak, istana yang megah dan bahan makanan yang melimpah, yang selalu dihitung dan dibangga-banggakannya hilang dalam sekejap mata ditelan bumi. Nasib tragis hartawan pada masa Nabi Musa as itu, diabadikan Allah Swt dalam Alquran agar menjadi pelajaran bagi manusia. Harta itu milik Allah; Diberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya dan akan dicabut kembali bila Ia menghendakinya.

Qarun termasuk kelompok istidraj, yakni ditangguhkan dan diundurkan kehancurannya, dengan terus dianugerahi nikmat meski hamba itu jahat (QS. Al-A’raf: 182).  Sedikitnya ada empat sifat jahat dari Qarun, yang mencelakakan, sehingga tidak boleh satu pun kita yang memimpikan kekayaan seperti kayanya Qarun, sepupu Nabi Musa itu.

Satu:

Ia menolak titah Nabi Musa, untuk terus dekat Allah, hingga ajal, meski papa atau kaya. Semula Qarun hamba Allah yang meramaikan shaf shalat dan zikir, bersama Nabi Musa dan jamaahnya, sekitar Kairo, Mesir. Dia semula warga yang papa dan fakir, dan mungkin saja sedang disahuti bidadari syurga, jika mati taat saat itu. Namun terakhir, luluh juga hati Nabi Musa, saat setiap hari ia merengek pada saudaranya Musa, agar diajarkan, sedikit saja ilmu kimia, mungkin itu ilmu kiat mendulang emas.

Selain ramai anak, awal kehidupan Qarun miskin betul. Sehingga selain meminta Musa untuk mendoakannya kepada Allah, dia juga minta diajarkan ilmu tukang emas. Ia mohon lewat kerja dan doa berupa kekayaan, harta benda, dan Allah pun mengabulkannya. Kisahnya juga ternyata penuh kelicikan. Ia sering mengambil harta dari Bani Israel yang lain. Maka menambah pundi emas, dan ribuan gudang harta yang melimpah ruah, penuh berisi koin emas dan mata uang perak.

Riya dan suka pamer
Kita jadi ingat juga sama anak Nabi Adam lain, Qabil yang dengan riya dan pamer, mengorbankan hartanya yang jelek dan layu, yang iri pada saudaranya Habil. Habil yang tulus mempersembahkan ternak yang baik dan gemuk. Akhirnya dia menumpahkan nyawa adiknya, Habil, korban perdana dalam sejarah. Padahal seperti kita juga, Qabil juga Qarun itu, keturunan ambiya. Qarun adalah sepupu Nabi Musa.

Konglemerat itu anak Yashar, adik kandung Imran, ayah Musa, dalam satu riwayat. Nabi Musa dan Qarun masih keturunan Yaqub.  Keduanya cucu dari Quhas putra Lewi, yang bersaudara dengan Nabi Yusuf bin Yaqub as, hanya berbeda ibu. Jadi biodatanya, Qarun bin Yashar bin Qahit/ Quhas bin Lewi bin Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim bin Azar, dalam satu versi.

Dua:

Dia amat pelit (bakhil) dan sombong (takabbur). Padahal Nabi Musa minta agar ia bermurah hati pada tetangga sebelah dan tetangga jauh. Supaya ia suka berbagi, kian sosial, bukan asosial. Sayangnya, Qarun terus menjalani dan menghitung harta dengan congkak dan bakhil-nya. Material dan propertinya sangat banyak, konon, sampai kunci-kunci gudang hartanya pun tidak sanggup dipikul oleh pemuda terkuat sekalipun.

Alim ulama dan warga sering menasihati Qarun, agar kurangi sombong dan rutin menyedekahkan sebahagian hartanya, untuk rumah ibadah, panti, jalan raya, korban bencana, dan pangan saudaranya. Qarun malah menampiknya, bahkan komplain:

“Buat apa aku bersedekah? Kalau mereka miskin, itu salah mereka. Patutnya mereka berusaha dan bekerja lebih giat lagi, seperti aku.”

Penduduk miskin yang naif kadar imannya, merasa cemburu atas kekayaan Qarun. Sering saat ngopi warga membandingkan keadaan mereka dengan Qarun.

“Mengapa Tuhan tidak adil...,” rintih salah seorang dari mereka. “Tuhan memberikan harta yang banyak kepada Qarun yang tidak berperikemanusiaan. Sedangkan kita yang miskin tidak diberi secuil harta pun.”

Teman-teman yang lain pun mengangguk setuju. Sementara itu, mereka yang kuat imannya tidak merasa dengki, mereka justru menyayangkan perilaku Qarun yang bermewah-mewah dan tidak mahu memikirkan saudaranya. Khabar angkuhnya Qarun sampai kepada Nabi Musa. Nabi umat Yahudi itu segera mendatangi dan menasihatinya,

“Wahai Qarun, semua yang kamu miliki ini adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya.” Qarun yang sok menampik dan melawan, “Sesungguhnya harta yang ada padaku adalah kerana ilmu yang ada padaku dan hasil kerja kuatku sendiri.”

Nabi Musa masih sabar, “Semua ilmunya juga berasal dari Allah dan akan dicabut oleh Allah kapan pun Allah mahu.” Qarun yang keras hati tetap tak bergeming.

“Bagikan hartamu untuk fakir miskin. Bukankah Allah memerintahkan demikian bagi mereka yang mampu?” ajak Musa.

Kala itu Qarun masih mahu mengikuti perintah Nabi, dan agak setuju untuk membagi sebahagian hartanya untuk fakir miskin. Negosiasi pun berlanjut dan dijajaki, soal kalkulasi berapa harga yang mesti dikeluarkan untuk disedekahkan. Sekembali ke istana, malamnya Qarun menghitung kembali jumlah yang perlu dikeluarkan untuk sedekah dan zakat. Tiba-tiba saja sifat kikir kembali menghinggapi dirinya dan menganggap jumlahnya terlalu besar untuk dikeluarkan.

“Enak saja, aku yang bersusah payah, kenapa harus dibagi-bagi kepada orang lain?” omelnya, usai menghitung hartanya.

Esoknya dia menolak juga berbagi bersama warga, dan pemungut zakat, utusan Nabi. Jadi ia hancur kerana sebab ketiga.

Tiga:

Iaitu ia menolak menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Sehingga dia hidup serba kaya raya. Qarun memutuskan untuk tidak menyedekahkan hartanya apa pun risikonya. Ia malah menganggap ucapan dan anacaman Nabi Musa hanya bualan, basa-basi, di siang bolong. Dengan tuduhan keji, bahkan ia berseru kepada semua penduduk, bahawa Musa ingin merampas harta mereka secara halus dengan mengatakan bahawa Allah telah mewahyukan kepadanya perintah untuk bersedekah.

Akubatnya keempat..

Empat:

Ia mencintai dunia berlebihan, mempamer, dan pertahankan materialnya, seperti cara kapitalis dan lintah darat. Bahkan demi itu, dia rela menebar fitnah. Hari-hari Qarun asyik mempamerkan berbagai macam kekayaannya seperti rumah besar, kuda bagus, baju mewah, perhiasan mahal, kasut kualiti, bahkan pengawal dan hamba sahaya yang cukup  banyak.

Kebencian Qarun terhadap perintah Allah dan Rasul pun, termasuk untuk bersedekah begitu besar. Ia sanggup menjatuhkan martabat Musa di mata kaumnya, selain tuduhan tadi. Diam-diam Qarun mengongkoskan satu wanita untuk menyatakan dirinya telah melakukan perbuatan zina dengan Musa. Fitnah itu pun menyebar cepat ke telinga seluruh penduduk negeri. Musa dan para sahabat sangat terkejut begitu berita itu sampai ke biliknya.

 Spontan mereka mencari wanita tersebut. “Cik adik, mengapa kau berkata seperti itu?” tanya Musa begitu ia menemui wanita lemah itu.

“Kau sendiri pasti tahu, Nabi Allah tidak akan melakukan perbuatan sehina itu!” desak para sahabat.

Dengan ketakutan wanita itu menjawab: “Maafkan aku tuan, aku hanya disuruh melakukannya.”

“Siapa? Katakan! kau tahu, perbuatanmu itu sungguh dilaknat Allah. Minta ampunlah kepada-Nya! Dan bersumpahlah atas nama Allah, siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini?”

Dengan ketakutan, wanita itu akhirnya mengakui bahawa dia melakukan perbuatan tersebut, atas perintah Qarun, yang berjanji akan membayar maharnya. Setelah mendengar kebohongan itu, Musa lantas tersungkur bersujud dan berdoa agar Qarun mendapat ganjaran atas perbuatannya merendahkan martabat seorang Nabi. Allah memerintahkan kepada bumi untuk menenggelamkan Qarun beserta seluruh hartanya yang melimpah, termasuk juga rumah mewahnya hanya dalam satu malam saja. Kerana hubbud dunya, sombong, dan menantang Nabi (QS. Al-Qashash: 76-83).

Ditelan bumi
Dalam riwayat lain dikisahkan, esoknya Musa sendiri menjumpainya, sambil berdiri di depan istananya. Dengan tongkatnya, Musa memukul tanah, dan mengisyaratan agar bumi menelan Qarun dan hartanya. Qarun dan koin emas, beserta harta yang melimpah pun tenggelam. Saat mahu ludes ditelan bumi, sebagaimana saat Fir’aun minta tolong pada Musa waktu ajal hingga ke leher. Dalam air Masin di Laut Merah, Qarun pun minta tolong pada Musa agar selamat, jangan ditelan bumi.

Rayunya, “Kita saudara Musa, tolong aku!!”

Andai minta ampun dan taubat lebih cepat lagi, sebelum ajal hamba dicabut, taubat masih diterima, asal
bukan minta tolong pada manusia, tapi pada Allah. Seluruh kota gempar oleh peristiwa sekejap itu. Bekas lubang menganga ditemui di lahan bekas istana Qarun. Lenyap, tidak ada lagi rumah mewah, ternak merumput, dan guci harta kekayaan yang pernah terlihat sebelumnya. Semuanya telah musnah, ikut tenggelam bersama pemiliknya.

Orang-orang yang dulu mengeluhkan keadaan mereka tidak seberuntung Qarun, berkata, kini terbalik.

“Andai saja kami dulu hidup seperti Qarun, pastilah kami akan mengalami nasib yang sama seperti Qarun. Demi Allah, hidup seperti ini lebih baik bagi kami dari pada kami tenggelam ke dasar bumi seperti Qarun.”

Dulu mereka mengomel, mengapa kita tidak kaya seperti Qarun, tapi kini mereka bersyukur pula, sebab tidak seperti Qarun. Moga sebelum terlambat, ini menjadi pelajaran bagi kita baik yang mencari kerang, memburu koin emas, membeli dirham dan barang temuan lainnya, atau yang sejenis sepertinya, sepanjang zaman.

BERITA KEPADA KAWAN/EBIET G.ADE


LIhat sebelum ini..
 Allahu 'aklam!

Pemegang PhD Perancis dedah kajian terhadap Pekida




 
Berdasarkan kepada kajian yang dijalankannya selama lima tahun di Malaysia, Pemegang PhD dari Perancis, Sophie Lemiere berkata NGO Pekida atau Tiga Line merujuk kepada kesetiaannya kepada orang Melayu, raja dan Islam.

Katanya, ini dapat dilihat dalam simbolnya  yang berwarna merah (untuk darah), kuning (raja ) dan hijau (Islam).

convertion forum protest 090807 gpms (left) pekida (right)Lemiere berkata berdasarkan temubualnya yang luas dengan
anggota-anggotanya dan carian di internet, kumpulan seperti Pekida adalah satu rangkaian kompleks NGO yang diwujudkan oleh kumpulan yang berkaitan dengan militan politik.

Pekida, menurut kajian Sophie,  adalah nama generik yang digunakan untuk menggambarkan satu rangkaian kompleks kumpulan dan NGO.

Pada hakikatnya, tegas beliau, nama Pekida adalah nama salah satu daripada banyak NGO yang diwujudkan oleh rangkaian tersebut untuk memberikan sokongan politik, menghalalkan sebahagian daripada aktiviti mereka, dan memudahkan penerimaan dana dari parti pemerintah.

180910 pekida burn bar council banner sosilawatiLemiere berkata mungkin ada kumpulan lain yang menggelar diri mereka Pekida tetapi di bawah nama lain juga atau mungkin tiada kaitan dengan Pekida .

Menurutnya, dua tanggapan utama yang akan diketengahkan adalah cabaran biasa bagi mana-mana kumpulan untuk terus hidup dan cara terbaik untuk menjamin survival adalah melalui kuasa dan wang.

'Kuasa dan wang jadi pendorong '


Katanya, objektif utama kumpulan itu adalah kuasa, keuntungan dan wang, yang membayangkan bahawa ahli-ahli terlibat dalam kegiatan haram, dan boleh menggunakan tahap keganasan yang berbeza.

Cita-cita asasnya, tegas Lemiere, ialah sering membentuk semula di segi ideologi bagi memudahkan pengambilan anggota, gabungan kumpulan dan mewajarkan penggunaan keganasan.

Kelestarian kumpulan itu dipastikan dengan menyesuaikan diri kepada perubahan politik dan sosial. Identiti kumpulan boleh berubah mengikut peluang yang wujud.

Sophie Lemiere Pekida forumLemiere (kiri) berkata, situasi politik yang berada dalam peralihan
adalah baik kepada pembangunan kumpulan-kumpulan tersebut dan membuka peluang untuk menjalin hubungan dengan parti-parti politik.
Dalam konteks ini, katanya, kumpulan-kumpulan itu boleh menjadi usahawan politik, atau militan secara diam-diam, kepada sesiapa di mana tindakan politik disubkontrak untuk mengekalkan kuasa politik.

Menurut Lemiere, ia umpama seekor sumpah-sumpah yang marah, yang boleh bertukar warna dan bentuk pada bila-bila masa,  tetapi sentiasa kekal dengan potensi ganas.

Lemiere, yang baru sahaja menerima PhD beliau dari Sciences-Po (L'Institut d'études politiques) Paris tentang pergerakan etno- nasionalis dan Islam di Malaysia, kini berada di Pulau Pinang untuk membentangkan kertas kerjanya di Universiti Sains Malaysia , semalam.

Kertas kerjanya  yang bertajuk 'Gangsters and Masters: Connivance Militancy in Contemporary Malaysia', adalah berdasarkan kajian dari tahun 2008 hingga April tahun ini.

Lemiere berpejabat di Singapura dan ahli gabungan Institut Penyelidikan Asia  di Universiti Nasional Singapura. Laporan tambahan
[Baca berita penuh]
1. 'Umno-linked gangs preserve authoritarian state'

Gapena tolak saranan mansuh bahasa istana



 
Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia (Gapena) menolak saranan Senator Dr Syed Husin Ali untuk memansuhkan bahasa istana yang dianggap merendahkan martabat manusia dan menggambarkan mentaliti hamba.
NONE
Ketua Satu Gapena Prof Datuk Dr Abdul Latiff Abu Bakar menganggap kenyataan senator itu, seperti dimuatkan dalam buku terbarunya, The Malay Rulers: Regression or Reform, memperkecil peranan dan keistimewaan institusi beraja.

“Yang Dr Syed Husin (kanan) tak setuju itu kerana dia salah (faham) dari segi merendah-rendahkan (martabat rakyat) dan sebagainya.

“Jadi saya lihat, umumnya kalau kita memperkatakan bahasa istana tak boleh digunakan, saya tak setuju sama sekali. Bahkan itu warisan orang Melayu,” katanya sambil menegaskan supaya jangan memperlekehkan institusi itu.

Bekas pensyarah sosiologi Universiti Malaya (UM) itu dalam The Malay Rulers: Regression or Reform antaranya membangkitkan penggunaan beberapa perkataan seperti "patik" yang bermaksud anjing dan "menjunjung duli Tuanku" yang bermaksud menjunjung tapak kaki.

Dalam wawancara di Rumah Gapena di ibu negara baru-baru ini, Dr Abdul Latiff berkata, cadangan Dr Syed Husin itu berbaur tuntutan kumpulan sosialis yang didakwanya mahu menafikan institusi diraja.

NONEDr Abdul Latiff (kiri) bagaimanapun sedia bertolak ansur sekiranya bahasa istana hanya “dikemaskini” maksud dan penggunaannya sekiranya terdapat unsur-unsur bercanggah dengan ajaran agama Islam.
Namun katanya rakyat masih perlu menggunakan perkataan bersesuaian ketika berkomunikasi dengan raja.

"Janganlah nanti orang datang baru belajar bahasa Melayu dia cakap kau aku (dengan sultan). Ini tidak boleh terjadi," kata beliau lagi.

Beliau menegaskan, untuk melakukan pengemaskinian bahasa itu, ia perlu dibuat melalui rundingan melibatkan rakyat dan Majlis Raja-Raja.

Buku The Malay Rulers: Regression or Reform setebal 86 halaman itu diterbitkan oleh SIRD, Kuala Lumpur dan dilancarkan di Petaling Jaya oleh Ketua Pembangkang, Datuk Seri Anwar Ibrahim.

Jumaat, 15 November 2013

Khamis, 14 November 2013

Bantahan SPPBS memuncak di laman sosial


Harakahdaily, 14 Nov 2013
KUALA LUMPUR: Masalah dihadapi para guru dalam mengakses pangkalan data Sistem Pengurusan Pentaksiran Berasaskan Sekolah (SPPBS) menyebabkan sebahagian warga pendidik melepaskan rasa tidak puashati mereka di laman sosial.

Ada di antara warga pendidik yang menggunakan kemahiran audiovisual memuat turun klip video berhubung SPPBS di laman Youtube.

Satu  klip video yang dimuat turun di Youtube dan dikongsi secara meluas di laman facebook  menunjukkan bagaimana paparan imej SPPBS di skrin komputer dimusnahkan peluru berpandu Exocet.

Ada juga guru yang kreatif berkarya menulis gurindam berhubung SPPBS. Karya bertajuk "SPPBS tak siap lagi" berbunyi:

Masuk kelas sebelah pagi
ikut jadual waktu sendiri
SPPBS tak siap lagi
perut belum diisi kopi.

Ada kerja sedia menanti
SPPBS tak siap lagi
hulur tangan nak buka lappy
mulut penuh mengunyah roti.

Masa makan masa free
SPPBS tak siap lagi
habis sejam masa berlari
satu apa pun tak menjadi.

SPPBS tak siap lagi
server lembab siput babi
masuk kelas lagi sekali
cuba lagi di rumah nanti.

SPPBS tak siap lagi
cuba lagi di petang hari
mujur ada broadband sendiri
tapi nasib tidak menyebelahi.

Sebelah kanan dengkur suami
si anak kecil di sebelah kiri
malang nasib jadi begini
SPPBS tak siap lagi.

Dingin malam hampiri pagi
bahang panas di dalam hati
SPPBS tak siap lagi
nak buat macam mana ni?


Pelbagai aduan berhubung SPPBS telah disuarakan para guru sejak ia mula dilaksanakan Kementerian Pelajaran.

Antara rungutan yang kerap dikemukakan adalah 'bandwidth' laman KPM yang terhad mengakibatkan  sistem SPPBS yang dilaksanakan oleh KPM tersangat perlahan untuk diakses ratusan ribu guru di seluruh Malaysia dalam tempoh yang sama.

"Ramai guru terpaksa bangun pukul 2-3 pagi semata-mata nak mengisi markah murid yang langsung tidak dapat di masuki pada sebelah siang.  Ditambah dengan tarikh tutup yang ditetapkan oleh KPM kepada beratus ribu guru," ujar seorang guru yang mahu dikenali sebagai Guru IT kepada Harakahdaily

Beliau mencadangkan supaya 'bandwidth server' untuk para guru mengakses sistem di tambah.

"Fikirkan berpuluh ribu guru seluruh Malaysia akses pada masa yang sama terpaksa membuang masa terlalu lama memasukkan data, tidur lewat malam, bangun awal pagi semata-mata kelemahan sistem ini. Kemudian mengajar pada waktu siang pula. Pernah orang KPM (Kementerian Pelajaran Malaysia) mengambil kira perkara ini?" kesal beliau.

Dalam perkembangan berkaitan KPM menerusi laman web sppbs.moe.gov.my menyiarkan pengumuman dua perenggan bagi menjawab rungutan warga guru berhubung SPPBS.

Pengumuman itu antara lain menyebut:

KPM mengambil maklum mengenai masalah akses ke SPPBS. Sehubungan dengan itu, kemasukan prestasi murid Tahun 1, Tahun 2 dan Tahun 3 (Akademik) serta Tingkatan 1 dan Tingkatan 2 (Akademik dan Non Akademik) bagi tahun 2013 akan ditutup buat sementara bermula 30 November 2013 dan akan dibuka semula pada 1 Januari 2014 bagi kemasukan prestasi tahun 2013 yang masih belum selesai.

Mohon kerjasama semua pengguna agar menggunakan pelayar (browser) Internet Explorer (IE) versi 7 hingga 9 sahaja untuk kemasukan prestasi NON-AKADEMIK bagi mengelakkan isu TAHAP PENCAPAIAN yang tidak dapat ditanda di SPPBS.