|
Ustaz Abu Muhammad Harits,
|
05 Ogs 2013
|
Bulan Rejab tahun ke sembilan hijrah. Panas menyengat kota Madinah.
Pasir dan batu bagaikan bara api. Tetapi pada saat itu buah-buahan
sedang ranum untuk dipetik. Sehingga betul-betul menggoda hati untuk
tidak beranjak menikmati teduhnya naungan, menanti untuk dituai.
Sebab-sebab PeperanganSetelah
jatuhnya Makkah ke pangkuan Islam. Hilanglah keraguan terhadap risalah
yang dibawa Manusia Agung, Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdul Muththalib
SAW. Manusiapun memeluk Islam berbondong-bondong. Kaum musliminpun mulai
tenang mempelajari syariat Islam di tempat masing-masing.
Tetapi,
nun jauh di utara, di luar bumi Hijaz. Satu kekuatan besar mengancam
perkembangan agama yang baru bersemi ini. Kekuatan empayar Rom.
Sebuah
kekuatan imperial yang menguasai belahan bumi bahagian barat. Negara
yang sudah memiliki strata peradaban yang maju untuk ukuran ketamadunan
ketika itu. Jauh melampaui negara-negara Arab yang ada. Bahkan kekuatan
kabilah Arab yang ada seperti Quraisy, tidak ada tandingannya
berbandingnya kekuatan empayar Rom.
Setelah terbunuhnya utusan
Rasulullah SAW, Al-Harits bin ‘Umair Al-Azdi di tangan Syurahbil bin
‘Amr Al-Ghassani, beliaupun mengirim pasukan Zaid bin Haritsah hingga
terjadi pertempuran sengit di Mu’tah dengan gugurnya para panglima
pasukan muslimin; Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan ‘Abdullah
bin Rawahah .
Akan tetapi peristiwa ini tidak diperhitungkan
oleh Hercules, raja Rom ketika itu. Sehingga dia tidak merasa perlu
melakukan perjanjian damai dengan kaum muslimin untuk menjaga keamanan
wilayah kekuasaannya.
Bagi kabilah Arab lainnya yang menjadi
jajahan Rom, peristiwa Mu`tah telah memberi pengaruh begitu dalam. Satu
demi satu mereka melepaskan diri dari kekuasaan Rom.
Setelah
melihat perkembangan inilah Hercules baru menyadari betapa perlunya
menyiapkan pasukan untuk menumpas gerakan kaum muslimin agar tidak
mengganggu kekuasaan Rom. Maka Hercules pun segera menggerakkan
rakyatnya.
Sampailah berita ke kota Madinah tentang persiapan
tentara Rom untuk menyerang kaum muslimin. Berita ini cukup
membimbangkan para sahabat di Madinah. kebimbangan ini jelas dari dialog
antara Umar al-Khattab dan seorang sahabat Ansar.
Pada saat itu, Rasulullah SAW sedang memboikot isteri-isterinya selama satu bulan dan menyendiri di tingkat atas rumah baginda.
Waktu
itu, Umar al-Khattab dan sahabat Ansar itu saling bergiliran hadir di
majlis Rasulullah SAW. Suatu ketika sahabat Ansar itu datang mengetuk
pintu Umar. Umar lantas membuka pintu dengan bergegas dan berkata: “Ada
apa? Apakah pasukan Ghassan (Rom) sudah menyerang?”
“Bukan. Ada yang lebih dahsyat dari itu. Rasulullah SAW menceraikan isteri-isteri baginda,” kata sahabat tersebut.
Inilah salah satu yang menunjukkan gentingnya keadaan saat itu.
Masjid DhirarSebelum
Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, ada seorang tokoh dari Khazraj
digelar Abu Amir Ar-Rahib (Si Pendeta). Pada masa jahiliyah, dia memeluk
agama Kristian dan membaca ilmu ahli kitab. Dia rajin beribadah ketika
itu dan mempunyai kedudukan mulia dalam kalangan orang-orang Khazraj.
Setelah
Rasulullah SAW tiba sebagai muhajirin di Madinah, dan kaum muslimin
bersatu mendukung baginda, lalu Islam memiliki kemuliaan dan Allah
memenangkan mereka dalam perang Badr, Abu Amir menelan kepahitan hingga
diapun menampakkan permusuhan dan lari bergabung dengan orang-orang
kafir Makkah, menghasut mereka agar memerangi Rasulullah SAW. Dia juga
yang menggali lubang perangkap dalam peperangan hingga Rasulullah SAW
jatuh di salah satu lubang perangkap tersebut.
Suatu ketika Abu
Amir cuba memujuk orang-orang Ansar agar menyokong dan membelanya.
Tetapi dia menerima cercaan dari orang-orang Ansar. Rasulullah SAW
sendiri pernah mengajaknya kepada Islam dan membacakan al-Qur’an
kepadanya, namun dia menolak dan menentang. Akhirnya Rasulullah SAW
mendoakannya mati sebatang kara terusir dari tanah airnya.
Hal
itu menjadi kenyataan. Ketika dia melihat kedudukan Rasulullah SAW
semakin tinggi, dia lari ke Syam bergabung dengan Hercules, meminta
bantuan kepadanya memerangi Nabi SAW. Hercules menjanjikan dan
mengizinkannya tinggal di negerinya. Kemudian Abu Amir menulis surat
kepada beberapa orang yang masih menyokongnya dari kalangan Ansar yang
munafik. Dia menjanjikan bahawa akan ada bantuan untuk memerangi
Rasulullah SAW serta mengembalikan kedudukannya di tengah-tengah
kaumnya.
Untuk memudahkan perancangannya, Abu Amir memerintahkan
penyokongnya untuk membuat satu markas mengintip keadaan kaum muslimin
jika bantuan itu datang. Akhirnya merekapun segera membangun sebuah
masjid yang berdekatan dengan Masjid Quba. Masjid itu selesai sebelum
Rasulullah SAW berangkat menuju Tabuk.
Merekapun datang meminta
agar Rasulullah SAW solat di masjid tersebut sebagai bukti bahawa
baginda telah merestui. Mereka memberi alasan bahawa masjid itu dibangun
untuk menampung kalau ada yang sakit dan mengalami kesusahan pada malam
musim dingin serta orang-orang yang lemah.
Allah menjaga baginda agar tidak solat di sana, kata baginda:
“Kami sedang dalam perjalanan. Kalau kami sudah kembali Insya-Allah (kami akan solat di sana).”Ketika
Rasulullah SAW dalam perjalanan kembali dari Tabuk, tinggal sehari atau
dua hari lagi sebelum masuk ke Madinah, turunlah Jibril menerangkan
keadaan masjid dhirar tersebut. Bahawasanya mereka mendirikan masjid
tersebut di atas kekafiran, memecah belah kaum mukminin di masjid
mereka. Akhirnya Rasulullah SAW mengirim beberapa orang untuk
meruntuhkan masjid itu menjelang kedatangan beliau di Madinah.
Allah SWT berfirman menerangkan keadaan masjid ini, maksudnya:
“Dan
(di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan
masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk
kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta
menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya
sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: Kami tidak menghendaki
selain kebaikan. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu
adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (Surah at-Taubah : ayat 107)
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahawa ada empat perkara yang mendorong mereka mendirikan masjid tersebut, iaitu:
1.Upaya menimbulkan mudarat bagi orang lain
2.Kekafiran kepada Allah dan membanggakan diri terhadap kaum muslimin
3.Memecah belah kaum mukminin
4.Merisik maklumat untuk mereka yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, sebagai bantuan buat musuh-musuh Allah.
Allah
SWT menggagalkan usaha mereka dan membuat tipu daya mereka sia-sia
dengan memerintahkan Nabi-Nya SAW agar meruntuhkan serta memusnahkan
masjid tersebut.
Allah SWT juga melarang Rasul-Nya SAW dan kaum
mukminin solat di masjid tersebut dengan larangan yang sangat keras.
Allah SWTberfirman, maksudnya:
“Janganlah kamu menegakkan
solat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang
didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah
lebih patut kamu solat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang
ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.”
(surah at-Taubah : ayat 108)Adapun sumpah yang mereka ucapkan sebagaimana dalam firman Allah SWT tersebut:
"Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.”Justeru celaan terhadap mereka atas angan-angan keji dan kedustaan mereka. Maka sebab itulah Allah SWT berfirman:
“Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta.”Dengan
hancurnya masjid dhirar, semakin sempitlah ruang gerak kaum munafik.
Jati diri mereka pun semakin jelas bagi kaum muslimin.
Persiapan Menuju TabukTabuk
adalah daerah di pinggiran wilayah Syam ke arah kiblat (selatan), dari
Madinah sekitar 12 marhalah. Menurut Yaqut al-Hamawi daerah ini terletak
antara Wadil Qura dan negeri Syam. Daerah ini termasuk jajahan
Bizantium (Rom) ketika itu.
Rasulullah SAW bertekad untuk
memerangi Rom, padahal ketika itu musim panas begitu hebat. Keadaan
ekonomi sedang melalui zaman sukar. Baginda sengaja menampakkan kepada
kaum muslimin keinginan tersebut. Bahkan beliau mengajak kabilah-kabilah
Arab dan orang-orang badui di sekitar baginda agar berangkat
bersama-sama. Maka terkumpullah pasukan cukup besar, iaitu sekitar
30,000 orang. Namun masih ada beberapa orang yang tertinggal tanpa
alasan, di antaranya Ka’b bin Malik, Murarah bin Ar-Rabi’ dan Hilal bin
Umayyah yang akan diceritakan pada bahagian lain Insya-Allah.
Walaupun
keadaan serba sukar, Rasulullah SAW tetap mendorong kaum muslimin
bersiap-siap untuk berperang. Padahal biasanya, apabila hendak berangkat
berperang, beliau selalu menampakkan seolah-olah bukan untuk berperang.
Beliau membangkitkan semangat orang-orang yang berharta agar berinfak
pada jalan Allah. Maka berlumba-lumbalah para hartawan mengeluarkan
hartanya untuk membiayai Jaisyul ‘Usrah (Pasukan yang kesulitan)
tersebut.
Az-Zuhri dan ulama lainnya menceritakan:Rasulullah
SAW biasanya kalau ingin berangkat berperang, melakukan secara kiasan
atau kata-kata lembut. Tetapi dalam perang Tabuk ini, baginda
menyampaikan terang-terangan tujuan dan sasarannya agar kaum muslimin
bersiap-siap. Beliau sampaikan bahawa yang dituju adalah Rom.
Pada
suatu hari dalam situasi persiapan tersebut, Rasulullah SAW berkata
kepada Jadd bin Qais, salah satu keluarga kabilah Bani Salimah:
“Hai Jadd, apakah tahun ini engkau ada keinginan kepada kulit-kulit Banil Ashfar?”Jadd menukas:
“Ya
Rasulullah, izinkanlah saya (tidak ikut berperang). Jangan anda
jerumuskan saya dalam fitnah. Demi Allah, kaumku semua tahu bahwa tidak
ada laki-laki yang paling besar kekagumannya kepada wanita daripada aku.
Saya bimbang kalau saya melihat wanita Rom itu, saya tidak dapat
bersabar.”Rasulullah SAW pun meninggalkannya sambil berkata:
“Saya beri izin untukmu.”Tentang Jadd inilah turun firman Allah SWT, maksudnya:
“Di
antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak
pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam
fitnah”. Ketahuilah, bahawa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan
sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.”
(Surah at-Taubah : ayat 49)Ada pula dari kalangan kaum
munafikin yang mengatakan: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang)
dalam panas terik ini.” Mereka merasa tidak membutuhkan jihad serta
meragukan kebenaran dan menimbulkan kegoncangan pada Rasulullah SAW.
Maka Allah SWTmenurunkan firman-Nya, yang bermaksud:
“Orang-orang
yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan
tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad
dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata:
‘Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini’.
Katakanlah: ‘Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas (nya),’ jikalau
mereka mengetahui.” (Surah at-Taubah : ayat 81)http://www.salafy.or.id