Isnin, 5 Ogos 2013

Perang Tabuk (1)


Ustaz Abu Muhammad Harits, 05 Ogs 2013
Bulan Rejab tahun ke sembilan hijrah. Panas menyengat kota Madinah. Pasir dan batu bagaikan bara api. Tetapi pada saat itu buah-buahan sedang ranum untuk dipetik. Sehingga betul-betul menggoda hati untuk tidak beranjak menikmati teduhnya naungan, menanti untuk dituai.

Sebab-sebab Peperangan

Setelah jatuhnya Makkah ke pangkuan Islam. Hilanglah keraguan terhadap risalah yang dibawa Manusia Agung, Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdul Muththalib SAW. Manusiapun memeluk Islam berbondong-bondong. Kaum musliminpun mulai tenang mempelajari syariat Islam di tempat masing-masing.

Tetapi, nun jauh di utara, di luar bumi Hijaz. Satu kekuatan besar mengancam perkembangan agama yang baru bersemi ini. Kekuatan empayar Rom.

Sebuah kekuatan imperial yang menguasai belahan bumi bahagian barat. Negara yang sudah memiliki strata peradaban yang maju untuk ukuran ketamadunan ketika itu. Jauh melampaui negara-negara Arab yang ada. Bahkan kekuatan kabilah Arab yang ada seperti Quraisy, tidak ada tandingannya berbandingnya kekuatan empayar Rom.

Setelah terbunuhnya utusan Rasulullah SAW, Al-Harits bin ‘Umair Al-Azdi di tangan Syurahbil bin ‘Amr Al-Ghassani, beliaupun mengirim pasukan Zaid bin Haritsah hingga terjadi pertempuran sengit di Mu’tah dengan gugurnya para panglima pasukan muslimin; Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan ‘Abdullah bin Rawahah .

Akan tetapi peristiwa ini tidak diperhitungkan oleh Hercules, raja Rom ketika itu. Sehingga dia tidak merasa perlu melakukan perjanjian damai dengan kaum muslimin untuk menjaga keamanan wilayah kekuasaannya.

Bagi kabilah Arab lainnya yang menjadi jajahan Rom, peristiwa Mu`tah telah memberi pengaruh begitu dalam. Satu demi satu mereka melepaskan diri dari kekuasaan Rom.

Setelah melihat perkembangan inilah Hercules baru menyadari betapa perlunya menyiapkan pasukan untuk menumpas gerakan kaum muslimin agar tidak mengganggu kekuasaan Rom. Maka Hercules pun segera menggerakkan rakyatnya.

Sampailah berita ke kota Madinah tentang persiapan tentara Rom untuk menyerang kaum muslimin. Berita ini cukup membimbangkan para sahabat di Madinah. kebimbangan ini jelas dari dialog antara Umar al-Khattab dan seorang sahabat Ansar.

Pada saat itu, Rasulullah SAW sedang memboikot isteri-isterinya selama satu bulan dan menyendiri di tingkat atas rumah baginda.

Waktu itu, Umar al-Khattab dan sahabat Ansar itu saling bergiliran hadir di majlis Rasulullah SAW. Suatu ketika sahabat Ansar itu datang mengetuk pintu Umar. Umar lantas membuka pintu dengan bergegas dan berkata: “Ada apa? Apakah pasukan Ghassan (Rom) sudah menyerang?”

“Bukan. Ada yang lebih dahsyat dari itu. Rasulullah SAW menceraikan isteri-isteri baginda,” kata sahabat tersebut.

Inilah salah satu yang menunjukkan gentingnya keadaan saat itu.

Masjid Dhirar

Sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, ada seorang tokoh dari Khazraj digelar Abu Amir Ar-Rahib (Si Pendeta). Pada masa jahiliyah, dia memeluk agama Kristian dan membaca ilmu ahli kitab. Dia rajin beribadah ketika itu dan mempunyai kedudukan mulia dalam kalangan orang-orang Khazraj.

Setelah Rasulullah SAW tiba sebagai muhajirin di Madinah, dan kaum muslimin bersatu mendukung baginda, lalu Islam memiliki kemuliaan dan Allah memenangkan mereka dalam perang Badr, Abu Amir menelan kepahitan hingga diapun menampakkan permusuhan dan lari bergabung dengan orang-orang kafir Makkah, menghasut mereka agar memerangi Rasulullah SAW. Dia juga yang menggali lubang perangkap dalam peperangan hingga Rasulullah SAW jatuh di salah satu lubang perangkap tersebut.

Suatu ketika Abu Amir cuba memujuk orang-orang Ansar agar menyokong dan membelanya. Tetapi dia menerima cercaan dari orang-orang Ansar. Rasulullah SAW sendiri pernah mengajaknya kepada Islam dan membacakan al-Qur’an kepadanya, namun dia menolak dan menentang. Akhirnya Rasulullah SAW mendoakannya mati sebatang kara terusir dari tanah airnya.

Hal itu menjadi kenyataan. Ketika dia melihat kedudukan Rasulullah SAW semakin tinggi, dia lari ke Syam bergabung dengan Hercules, meminta bantuan kepadanya memerangi Nabi SAW. Hercules menjanjikan dan mengizinkannya tinggal di negerinya. Kemudian Abu Amir menulis surat kepada beberapa orang yang masih menyokongnya dari kalangan Ansar yang munafik. Dia menjanjikan bahawa akan ada bantuan untuk memerangi Rasulullah SAW serta mengembalikan kedudukannya di tengah-tengah kaumnya.

Untuk memudahkan perancangannya, Abu Amir memerintahkan penyokongnya untuk membuat satu markas mengintip keadaan kaum muslimin jika bantuan itu datang. Akhirnya merekapun segera membangun sebuah masjid yang berdekatan dengan Masjid Quba. Masjid itu selesai sebelum Rasulullah SAW berangkat menuju Tabuk.

Merekapun datang meminta agar Rasulullah SAW solat di masjid tersebut sebagai bukti bahawa baginda telah merestui. Mereka memberi alasan bahawa masjid itu dibangun untuk menampung kalau ada yang sakit dan mengalami kesusahan pada malam musim dingin serta orang-orang yang lemah.

Allah menjaga baginda agar tidak solat di sana, kata baginda: “Kami sedang dalam perjalanan. Kalau kami sudah kembali Insya-Allah (kami akan solat di sana).”

Ketika Rasulullah SAW dalam perjalanan kembali dari Tabuk, tinggal sehari atau dua hari lagi sebelum masuk ke Madinah, turunlah Jibril menerangkan keadaan masjid dhirar tersebut. Bahawasanya mereka mendirikan masjid tersebut di atas kekafiran, memecah belah kaum mukminin di masjid mereka. Akhirnya Rasulullah SAW mengirim beberapa orang untuk meruntuhkan masjid itu menjelang kedatangan beliau di Madinah.

Allah SWT berfirman menerangkan keadaan masjid ini, maksudnya:

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: Kami tidak menghendaki selain kebaikan. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (Surah at-Taubah : ayat 107)

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahawa ada empat perkara yang mendorong mereka mendirikan masjid tersebut, iaitu:

1.Upaya menimbulkan mudarat bagi orang lain
2.Kekafiran kepada Allah dan membanggakan diri terhadap kaum muslimin
3.Memecah belah kaum mukminin
4.Merisik maklumat untuk mereka yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, sebagai bantuan buat musuh-musuh Allah.

Allah SWT menggagalkan usaha mereka dan membuat tipu daya mereka sia-sia dengan memerintahkan Nabi-Nya SAW agar meruntuhkan serta memusnahkan masjid tersebut.

Allah SWT juga melarang Rasul-Nya SAW dan kaum mukminin solat di masjid tersebut dengan larangan yang sangat keras. Allah SWTberfirman, maksudnya:

“Janganlah kamu menegakkan solat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu solat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (surah at-Taubah : ayat 108)

Adapun sumpah yang mereka ucapkan sebagaimana dalam firman Allah SWT tersebut:

"Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.”


Justeru celaan terhadap mereka atas angan-angan keji dan kedustaan mereka. Maka sebab itulah Allah SWT berfirman:

“Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta.”

Dengan hancurnya masjid dhirar, semakin sempitlah ruang gerak kaum munafik. Jati diri mereka pun semakin jelas bagi kaum muslimin.

Persiapan Menuju Tabuk

Tabuk adalah daerah di pinggiran wilayah Syam ke arah kiblat (selatan), dari Madinah sekitar 12 marhalah. Menurut Yaqut al-Hamawi daerah ini terletak antara Wadil Qura dan negeri Syam. Daerah ini termasuk jajahan Bizantium (Rom) ketika itu.

Rasulullah SAW bertekad untuk memerangi Rom, padahal ketika itu musim panas begitu hebat. Keadaan ekonomi sedang melalui zaman sukar. Baginda sengaja menampakkan kepada kaum muslimin keinginan tersebut. Bahkan beliau mengajak kabilah-kabilah Arab dan orang-orang badui di sekitar baginda agar berangkat bersama-sama. Maka terkumpullah pasukan cukup besar, iaitu sekitar 30,000 orang. Namun masih ada beberapa orang yang tertinggal tanpa alasan, di antaranya Ka’b bin Malik, Murarah bin Ar-Rabi’ dan Hilal bin Umayyah  yang akan diceritakan pada bahagian lain Insya-Allah.

Walaupun keadaan serba sukar, Rasulullah SAW tetap mendorong kaum muslimin bersiap-siap untuk berperang. Padahal biasanya, apabila hendak berangkat berperang, beliau selalu menampakkan seolah-olah bukan untuk berperang. Beliau membangkitkan semangat orang-orang yang berharta agar berinfak pada jalan Allah. Maka berlumba-lumbalah para hartawan mengeluarkan hartanya untuk membiayai Jaisyul ‘Usrah (Pasukan yang kesulitan) tersebut.

Az-Zuhri dan ulama lainnya menceritakan:

Rasulullah SAW biasanya kalau ingin berangkat berperang, melakukan secara kiasan atau kata-kata lembut. Tetapi dalam perang Tabuk ini, baginda menyampaikan terang-terangan tujuan dan sasarannya agar kaum muslimin bersiap-siap. Beliau sampaikan bahawa yang dituju adalah Rom.

Pada suatu hari dalam situasi persiapan tersebut, Rasulullah SAW berkata kepada Jadd bin Qais, salah satu keluarga kabilah Bani Salimah: “Hai Jadd, apakah tahun ini engkau ada keinginan kepada kulit-kulit Banil Ashfar?”

Jadd menukas: “Ya Rasulullah, izinkanlah saya (tidak ikut berperang). Jangan anda jerumuskan saya dalam fitnah. Demi Allah, kaumku semua tahu bahwa tidak ada laki-laki yang paling besar kekagumannya kepada wanita daripada aku. Saya bimbang kalau saya melihat wanita Rom itu, saya tidak dapat bersabar.”

Rasulullah SAW pun meninggalkannya sambil berkata: “Saya beri izin untukmu.”

Tentang Jadd inilah turun firman Allah SWT, maksudnya:

“Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah”. Ketahuilah, bahawa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.” (Surah at-Taubah : ayat 49)

Ada pula dari kalangan kaum munafikin yang mengatakan: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Mereka merasa tidak membutuhkan jihad serta meragukan kebenaran dan menimbulkan kegoncangan pada Rasulullah SAW. Maka Allah SWTmenurunkan firman-Nya, yang bermaksud:

“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: ‘Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini’. Katakanlah: ‘Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas (nya),’ jikalau mereka mengetahui.” (Surah at-Taubah : ayat 81)

http://www.salafy.or.id

Sabtu, 3 Ogos 2013

Ain Jalut: Menang selepas bersatunya perbezaan


Mohammad Faizal Che Yusof, 03 Ogs 2013
MENYOROTI kembali apa yang berlaku dalam tahun 658H bersamaan 126M, pada pagi 25 Ramadhan bersamaan 3 September, ia cukup menyuntik semangat juang kepada setiap muslim yang cintakan liku-liku jihad. Pada tanggal tersebutlah Allah telah menghadiahkan kemenangan kepada sebuah perjuangan Islam di bumi Ain Jalut setelah sekian lama dilemahkan oleh bayangan kekuatan gerombolan Tatar di kala lunturnya semangat jihad umat Islam.

Kemenangan pejuang-pejuang Islam di Ain Jalut yang dipimpin oleh pemerintah Mesir, Sultan Muzaffar Saifuddin Qutuz dicapai dalam suasana segala persiapan terbaik dan termampu telah dilakukan, membuang segala sifat jahat dalam diri dan penyerahan sebulat-bulatnya kepada Allah Azzawajalla. Tatar pada waktu itu bukanlah berada pada keadaan yang lemah. Bahkan mereka baru saja mengalahkan pemerintahan Abasiah di Baghdad dalam tempoh 40 hari.

Sorotan perjalanan menuju 25 Ramadhan 658H itulah perlu diteliti dan dihayati oleh setiap umat Islam, moga-moga ia memberi inspirasi dan menyuntik semangat untuk kita menyiapkan yang terbaik demi cinta kita kepada Islam. Sirah bukan sekadar untuk dibaca sebagai kisah yang mengasyikkan. Lebih dari itu, setiap incian pengajarannya wajip diambil iktibar setidak-tidaknya apa yang baik dapat dicontohi dan segala yang lemah dapat diteladani.
Sultan Saifuddin Qutuz bukanlah dari golongan terhormat. Beliau datang dari kelompok hamba yang dijual daripada seorang tuan kepada tuan yang lain. Namun, cintanya kepada Islam dan tekadnya untuk mengembalikan kedaulatan Islam telah memungkinkan terbuka luas pintu pertolongan dari Allah S.W.T. Mesir pada waktu itu yang mana merupakan benting akhir umat Islam telah gagal dilanggar oleh gerombolan Tatar yang maha kejam dan ganas. Maruah Islam dan umat Islam Berjaya dipulihkan dalam tempoh sehari, 25 Ramadhan 658H.

Menyingkap sirah Ain Jalut, sebaik menaiki takhta pemerintahan kerajaan Mesir, Qutuz telah memanggil semua pembesar-pembesar Mesir. Dalam ucapan sulungnya, Qutuz menegaskan tekadnya untuk mengembalikan maruah Islam dan menentang Tatar habis-habisan. Itulah cita-cita utama beliau sebaik diberi amanah jawatan tersebut.

Beliau dengan tegas menyebut jika ada dari kalangan pembesar atau menterinya yang bersedia menerajui Mesir menggantikan beliau, beliau sedia melepaskan jawatan untuk memberi laluan kepada pembesar atau menteri terbabit. Tawaran Qutuz tersebut tidak bersambut meskipun sebelum Qutuz memegang tampuk pemerintahan, perebutan kuasa berlaku begitu berleluasa dan terbuka dalam kerajaan Mesir.


Nyata mandat tanpa berbelah bahagi yang diperolehi Qutuz suatu permulaan yang baik untuk baginda menyusun langkah seterusnya. Tindakan politik Qutuz seterusnya adalah memecat mana-mana menteri yang dikenalpasti gagal melaksanakan tugas dan lemah. Bagi Qutuz, beliau tidak mempunyai masa yang banyak. Setiap tindakan mesti tepat dan cepat.

Menyedari adanya golongan-golongan yang masih berbalah sesama sendiri, Qutuz telah mengambil langkah mendamaikan setiap kumpulan Mamaluk yang berkrisis sejak lama sebelumnya. Mana-mana kelompok yang dikatakan pernah menentang kerajaan sebelumnya, ada yang diberi keampunan bila mana Qutuz menyedari bahawa potensi dan kelebihan yang ada pada mereka amat bermanfaat dalam mengembalikan kedaulatan Islam dan kestabilan Mesir.

Dalam usaha menyatukan setiap kelompok yang bertelagah, Qutuz sendiri telah turun padang bagi memastikan perancangannya berjaya tanpa digagalkan oleh anasir-anasir jahad dari dalam.

Hanya dalam tempoh beberapa bulan, Qutuz telah berjaya mengembalikan politik dalaman Mesir yang selama ini bergolak. Bagi memastikan misi menentang Tatar Berjaya, Qutuz juga telah berjaya mendapatkan sokongan serantau sama ada dari kerajaan-kerajaan Islam dan bukan Islam. Antaranya termasuklah kerajaan Islam dari Sham dan juga tentera salip dari negeri Akka.

Qutuz juga sedar, bagi berhadapan dengan Tatar, ia memerlukan sokongan padu dari setiap rakyat dan kewangan yang banyak dan mencukupi. Justeru, Qutuz telah mengatur gerakan penerangan besar-besaran ke seluruh Mesir yang dipelopori oleh kumpulan ulama bagi menerangkan kepada rakyat keperluan jihad dan mengembalikan maruah Islam.

Dalam memperkukuhkan keudukan kewangan bagi membiayai peperangan, pada awalnya Qutuz selaku pemerintah utama telah membentangkan usul untuk meningkatkan kutipan cukai dari rakyat jelata. Namun, usul yang dbentang tersebut telah disanggah oleh ulama Mesir bernama Al-I’z Abdisalam yang digelar Sultanul Ulama.

Bagi I’z Abdissalam, kutipan cukai dari rakyat hanya boleh dilakukan setelah kerajaan terlebih dahulu mengambil harta dari kekayaan menteri dan pembesar Mesir. Qutuz dengan sikap terbukanya telah menerima dan melaksanakan fatwa dari I’z Abdissalam tersebut. Nyatanya kerajaan memperolehi pembiayaan yang mencukupi bahkan rakyat bawahan yang menyaksikan tindakan kerajaan dan komitmen oleh menteri dan pembesar telah juga menyumbang secara sukarela tanpa diarahkan oleh kerajaan Qutuz.

Menjelang Sya’ban 658H, Qutuz hanya mengambil masa sekitar tujuh bulan untuk meletakkan tentera Islam dan seluruh masyarakat Islam berada dalam keadaan siap siaga sepenuhnya sebelum misi ke Ain Jalud dimulakan. Pertempuran kebenaran dan kebatilan di Ain Jalud sebetulnya dapat menginsafi kita betapa pertolongan Allah hanya diperolehi bila kita telah melakukan yang terbaik dalam kemampuan sebenar.

Medan Ain Jalut telah menyaksikan Islam bukan sekadar diperjuangkan oleh tentera-tentera yang khusus, bahkan pada hari-hari sebelum 25 Ramadhan 658H, masyarakat Islam yang berada di Palestin pada ketika itu telah keluar beramai-ramai ke Ain Jalut bagi menyatakan sokongan dan memberi semangat kepada tentera Mesir yang dipimpin sendiri oleh Qutuz.

Dengan izin Allah, setelah mengadakan teknik dan taktik yang terbaik yang mampu diadakan, Tatar yang dipimpin oleh Katabga Khan akhirnya telah tersungkur buat julung-julung kalinya sekali gus menutup sejarah kekejaman mereka yang melata dari Semenanjung Korea melebar ke benua Asia dan Afrika.

Menutup perbincangan ringkas ini dalam kita berada pada penghujung Ramadhan, marilah kita menanam tekad dan iltizam, mengukuhkan persaudaraan, menyantuni setiap perbezaan dengan penuh kebijaksanaan demi mendepani cabaran-cabaran mendatang. Kotakan setiap kata-kata berteraskan kebenaran dengan berserah diri sepenuhnya kepada Allah S.W.T. – 25 Ramadhan 1434H.

Tanda-tanda lailatul Qadar dari hadis sahih


Ustaz Ahmad Adnan Fadzil, 02 Ogs 2013
1. Pada malamnya bulan kelihatan seperti separuh jafnah (jafnah; bekas makanan berbentuk bulat seperti pinggan besar atau talam)” (Soheh Muslim, 1170/222).

2. Malamnya tenang, tenteram dan sentosa (Al-Jami’ as-Saghier; 7728, menurut as-Suyuti; hasan. Musnad Ahmad; 22765, hasan).

3. Malamnya bersih dan terang di mana seolah-olah pada malam itu terdapat cahaya bulan yang menerangi, menenggelamkan cahaya-cahaya bintang (Soheh Ibnu Hibban, 3688, menurut Syeikh Syu’aib al-Arnaut; hadis soheh bisyawahidihi. Musnad Imam Ahmad; 22765, hasan).

4. Udaranya tidak terlalu panas, tidak terlalu sejuk (Soheh Ibnu Hibban, 3688, hadis soheh bisyawahidihi. Al-Jami’ as-Saghier; 7727, 7728, menurut as-Suyuti; hasan).

5. Tidak ada lontaran dari bintang pada malam itu hinggalah pagi (Al-Jami’ as-Saghier; 7727, hasan. Musnad Imam Ahmad; 22765, hasan).

6. Malamnya tidak berawan, tiada hujan dan tiada angin (Al-Jami’ as-Saghier; 7727). Menurut penjelasan al-Munawi; maksudnya ialah tidak bersangatan awan, hujan dan anginnya (tiada ribut) (Faidhul Qadier).

7. Pada paginya matahari muncul dengan cahaya yang lemah, sekata, berwarna kemerahan dan tanpa sinaran/pancaran yang menyucuk mata (Al-Jami’ as-Saghier; 7727, 7728, hasan. Musnad Imam Ahmad; 22765, hasan. Soheh Muslim; 762/220).

Namun yang penting pada malam al-qadar (lailatul qadar) ialah beramal pada malam tersebut. Berkata Imam al-Munawi; “Orang yang tidak dapat melihat tanda, tidak mesti dia tidak mendapat malam tersebut. Boleh jadi seorang yang bangun beribadah di malam itu, ia hanya dikurniakan Allah kesempatan beribadah, tanpa dapat melihat sebarang tandanya. Orang itu di sisi Allah lebih baik dan lebih mulia daripada orang yang hanya melihat tanda sahaja (tetapi tidak beribadah di malam tersebut)” (Faidhul Qadier; 7728).

Selasa, 30 Julai 2013

Tarikh nuzul al-Qur’an: Suatu perbincangan


Dr Ahmad Najib bin Abdullah Al-Qari, 29 Jul 2013
Pendahuluan:
Nuzul al-Qur’an merupakan satu peristiwa penting berhubung sejarah al-Qur’an itu sendiri. Justeru, ia mendapat tempat khusus dalam karya-karya Ulum al-Qur’an (Ilmu-ilmu berkaitan al-Qur’an). Tumpuan diberikan untuk menjelaskan hakikat nuzul dan tahap-tahap penurunan al-Quran.

Al-Syaikh Muhammad Abd Al-‘Azim al-Zarqani ada menyatakan bahawa Nuzul al-Qur’an adalah asas keimanan terhadap al-Qur’an itu sendiri dan juga keimanan terhadap Nabi SAW.

Nuzul al-Qur’an bermaksud penurunan al-Qur’an. Ia terbahagi kepada dua tahap  utama:
Pertama: Nuzul al-Qur’an dari Lauh Mahfuz ke langit dunia di Bait al-Izzah secara sekaligus.
Kedua: Nuzul al-Qur’an dari Bait al-Izzah di langit dunia kepada Nabi SAW secara beransur-ansur dalam tempoh 23 tahun.

Berhubung isu Nuzul Al-Qur’an yang dibincangkan ini, apakah maksud penurunan (Nuzul)? adakah ia bermaksud Nuzul Al-Qur’an pada tahap pertama atau pada tahap kedua?

Jika kita mengumpulkan pendapat para ulama Islam dalam isu ini kita akan memperolehi pelbagai pendapat dan huraian.

Pendapat Pertama:
Pendapat yang agak masyhur memilih tanggal 17 Ramadhan sebagai tarikh Nuzul al-Qur’an.  Pendapat ini dipegangi sebahagian ulama sirah. Antara ulama sirah yang kuat berpegang kepada pendapat ini ialah Syaikh al-Khudhari dalam karyanya; Muhadharat Tarikh al-Umam al-Islamiyyah. Pendapat ini merujuk kepada suatu riwayat daripada al-Waqidi menerusi Abu Ja’far al-Baqir yang mengatakan bahawa (penurunan) wahyu kepada Rasulullah SAW bermula pada hari Isnin, 17 Ramadhan  (dan dikatakan pada 24 Ramadhan). Riwayat ini dinyatakan oleh al-Hafiz Ibn Kathir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, maksudnya:

Al-Waqidi meriwayatkan dengan sanadnya daripada Abu Ja’far al-Baqir bahawa dia berkata: Permulaan wahyu kepada Rasulullah SAW adalah pada hari Isnin 17 Ramadhan, dan dikatakan juga pada 24 Ramadhan.

Ada suatu hal yang agak menarik dalam kita membincangkan pendapat yang menyatakan 17 Ramadhan sebagai tanggal Nuzul Al-Qur’an. Setelah saya meneliti kitab Sirah Ibn Hisyam berhubung tajuk “Ibtida’ Tanzil Al-Qur’an” (Bermulanya Penurunan Al-Qur’an), terdapat semacam satu kekeliruan apabila Ibn Hisyam ada membuat  catatan berikut, maksudnya:

Ibn Ishaq berkata: Rasulullah SAW mula diturunkan wahyu kepadanya pada bulan Ramadhan. Allah Azza Wajalla berfirman (maksudnya): Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya al-Qur’an sebagai petunjuk kepada manusia dan keterangan-keterangan kepada petunjuk itu, juga sebagai pembeza (antara yang haq dan yang batil). Dan Allah Ta’ala berfirman (maksudnya): Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam al-Qadr …Dan Allah berfirman maksudnya: Sekiranya kamu benar-benar beriman kepada Allah dan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari al-Furqan, hari pertembungan dua kumpulan… Itulah (yang dimaksudkan) pertemuan (peperangan) Rasulullah SAW dengan golongan musyrikin di Badr. Berkata Ibn Ishaq: Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain menceritakan kepadaku bahawa Rasulullah SAW bertemu (memerangi) golongan musyrikin pada hari Juma’at, pagi 17 Ramadhan.

Jika diperhatikan dan dihalusi, kenyataan di atas semacam mengaitkan elemen ‘al-furqan’ yang terdapat dalam al-Qur’an (pada ayat 185, Surah al-Baqarah) dengan ‘yaum al-furqan’ (hari al-Furqan, pada ayat 41, Surah  al-Anfal) yang merujuk kepada hari Peperangan Badr yang berlaku pada 17 Ramadhan. Oleh sebab perkara ini disebut di bawah tajuk “Ibtida’ Tanzil al-Qur’an”, berkemungkinan ada pihak yang memahami bahawa Nuzul Al-Qur’an juga berlaku pada tarikh yang sama.

Pendapat Kedua: Nuzul Al-Qur’an berlaku pada 7 Ramadhan.

Pendapat Ketiga: Nuzul Al-Qur’an berlaku pada 18 Ramadhan.
Pendapat kedua dan ketiga ini dinyatakan oleh Syaikh Safiyy al-Rahman al-Mubarakfuri dalam kitab sirahnya.

Pendapat Keempat:

Syaikh Safiyy al-Rahman sendiri membuat pilihan dan tarjih yang berbeza dengan ulama lain. Menurut beliau, Nuzul Al-Qur’an jatuh pada 21 Ramadhan. Antara alasan yang dikemukakan seperti berikut:
1.Semua ulama sirah atau majoriti kalangan mereka sepakat mengatakan bahawa Nabi SAW dibangkitkan pada hari Isnin berdasarkan hadis Abu Qatadah RA dalam Sahih Muslim dan lain-lain.
2.Hari Isnin pada tahun Nabi SAW dibangkitkan jatuh sama ada pada hari 7 Ramadhan, 14 Ramadhan, 21 Ramadhan dan 28 Ramadhan. Hadis yang sahih ada menyebut bahawa malam al-Qadr tidak berlaku melainkan pada malam-malam ganjil, sepuluh malam terakhir Ramadhan.
3.Setelah dibuat perbandingan antara firman Allah dalam ayat 1 Surah Al-Qadr dan riwayat Abu Qatadah tentang penentuan hari Isnin sebagai hari Nabi SAW dibangkitkan serta dipadankan dengan perhitungan taqwim yang tepat bilakah sebenarnya jatuh hari Isnin pada bulan Ramadhan tahun kebangkitan Nabi SAW, jelaslah bahawa baginda dibangkitkan pada malam 21 Ramadhan.

Pendapat Kelima:
Pendapat seterusnya, Nuzul al-Qur’an jatuh pada 24 Ramadhan. Pendapat ini berdasarkan hadis berikut, maksud:

Berkata Imam Ahmad: Abu Sa’id Maula Bani Hashim memberitakan kepada saya, katanya: ‘Imran Abu al-‘Awwam memberitakan daripada Qatadah daripada Abi al-Malih daripada Wathilah bin Al-Asqa’ bahawa Rasulullah SAW bersabda: Suhuf Nabi Ibrahim AS diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat pula diturunkan pada 6 Ramadhan, Injil diturunkan pada 13 Ramadhan. Dan Allah menurunkan al-Furqan (Al-Qur’an) pada 24 Ramadhan.

Hadis di atas dihukumkan hasan oleh Syaikh al-Albani, manakala Syaikh Ahmad Shakir menghukumkan sanad hadis ini sebagai sahih.

Menurut al-Hafiz Ibn Hajar, hadis di atas bertepatan dengan firman Allah SWT dalam Surah al-Baqarah ayat 185 dan firman-Nya Surah al-Qadr ayat 1.

Kata beliau,  berkemungkinan Lailah al-Qadr berlaku pada tahun kebangkitan Nabi SAW pada malam tanggal 24 Ramadhan yakni al-Qur’an diturunkan secara sekaligus ke langit dunia dan pada masa yang sama (24 Ramadhan) wahyu pertama diturunkan, iaitu surah Iqra:

Al-Tabari juga ada menyebut satu riwayat dengan sanadnya menerusi Sa’id Bin Jubair daripada Ibn Abbas RA katanya: Al-Qur’an diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfuz pada malam 24 Ramadhan, kemudiannya ia ditempatkan di Bait al-‘Izzah.

Al-Qurtubi pula menyebut hadith Wathilah bin al-Asqa’ di atas dan menyatakan bahawa hadis tersebut merupakan dalil atau hujah terhadap pendapat Hasan al-Basri yang menegaskan bahawa malam al-Qadr berlaku pada malam 24 Ramadhan.

Al-Hafiz Ibn Kathir juga ada membawa hadis Wathilah ini dalam mentafsirkan maksud ayat 185, Surah al-Baqarah, kemudian beliau menyatakan bahawa Ibn Mardawaih ada meriwayatkan hadis daripada Jabir Bin ‘Abdullah RA seumpama hadith Wathilah dengan sedikit perbezaan pada matan hadith berkenaan.] Beliau juga ada menyebut hadis ini dalam al-Bidayah wa al-Nihayah  dan menyatakan bahawa berdasarkan hadis Wathilah ini, sebahagian ulama dari kalangan para sahabat dan tabi’in berpendapat bahawa malam al-Qadr berlaku pada malam 24 Ramadhan.

Turut menyebut hadis Wathilah ,Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani di mana beliau mengambil hadis ini  bagi menjelaskan Nuzul al-Qur’an berlaku pada tanggal 24 bulan Ramadhan.

Kesimpulan yang dapat dibuat setelah meneliti pendapat-pendapat yang dikemukakan di atas berhubung tanggal Nuzul Al-Qur’an seperti berikut:
1.Pendapat yang menyebut Nuzul al-Qur’an jatuh pada 17 Ramadhan bersandarkan riwayat al-Waqidi. Menurut ulama al-Jarh wa al-Ta’dil, al-Waqidi (m. 207 H), nama penuh beliau: Muhammad Bin Umar Bin Waqid al-Aslami  seorang perawi yang sangat lemah (matruk) dan tidak diterima riwayatnya. Pendapat ini juga ditolak oleh Syaikh al-Zarqani kerana ia bercanggah dengan pendapat yang masyhur lagi sahih.

2.Pendapat Syaikh Safiyy al-Rahman al-Mubarakfuri yang menyatakan Nuzul al-Qur’an jatuh pada tanggal 21 Ramadhan merupakan cetusan ijtihad beliau semata-mata berdasarkan penelitian beliau terhadap hadis Abu Qatadah dan perkiraan taqwim yang dipegangi beliau dengan mengambil kira malam ganjil untuk Malam al-Qadr. Malam al-Qadr boleh berlaku pada malam-malam genap dan juga boleh berlaku pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan.

3.Pendapat yang menyebut bahawa Nuzul Al-Qur’an jatuh pada 24 Ramadhan adalah kuat. Ini berdasarkan kepada perkara-perkara berikut:

i.Pendapat ini bersandarkan hadis marfu’ yang sahih dan diperakui oleh tokoh-tokoh dalam bidang hadis. Sebagaimana yang termaklum, apa jua permasalahan dalam Agama Islam perlu dirujuk kepada nas al-Qur’an dan hadis. Dalam hal ini, hadis Wathilah Bin al-Asqa’ adalah rujukan utama dalam menentukan bilakah berlakunya Nuzul al-Qur’an.

ii. Matan hadis dengan jelas menyebut bahawa al-Qur’an diturunkan pada 24 Ramadhan.

iii.Maksud atau mafhum hadis diterima pakai oleh ulama muktabar dari kalangan ahli hadis dan para mufassirin dan dijadikan hujah bagi menetapkan tanggal 24 Ramadhan sebagai tarikh tepat bagi Nuzul al-Qur’an. Rujuk kata-kata al-Hafiz Ibn Hajar, Imam al-Qurtubi dan al-Hafiz Ibn Kathir.

Penutup:

Kepelbagaian pandangan para ulama dalam membincangkan tarikh Nuzul al-Quran membuktikan keprihatinan dan kecintaan mereka yang mendalam terhadap al-Qur’an al-Karim. Setiap pendapat ada sandaran hujah yang dipegangi. Ruang untuk perbincangan masih terbuka asalkan hati bertekad mencari kebenaran. Dan perbezaan pendapat dalam hal sebegini janganlah sampai membawa kepada pertelingkahan yang boleh meruntuhkan ummah.

* Maqalah ini telah diedit semula oleh penulis (Dr Abu Zaid) pada bulan Ramadhan 1432H

http://abuanasmadani.blogspot.com

Ahad, 28 Julai 2013

Lailatul Qadar Menurut Kajian Saims.


ARTIKEL tentang Lailatul Qadar ini bersumberkan dari buku tulisan Rajendra Kartawiria, Quranic Quotient Centre. Sebahagian isi buku ini kemudiannya dipublikasikan di internet oleh Aulia Muttaqin dan beberapa sumber lain. 
Manfaatkan malam Ramadhan untuk memperluas ilmu dan membangun keyakinan, Mengapa Ramadhan?
Dalam Islam kita mengenali kewujudan 4 bulan suci, iaitu Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rejab. Ramadhan yang bererti panas tidak termasuk sebagai bulan suci. Mengapa Ramadhan dipilih untuk puasa sebulan penuh?
Dalam ilmu astronomi, Radiasi Matahari memiliki siklus 11 tahun. Tahun 2007 sendiri merupakan pengakhiran dari siklus ke 23 sejak pengamatan pertama pada abad 18.
Bumi dilindungi Magnestosphere, sehingga kesan gelombang radiasi tidak terjadi pada sisi bumi yang menghadap matahari (siang hari).
Ketika gelombang radiasi matahari datang, kesannya terasa pada bahagian bumi yang membelakangi matahari (malam hari).
Radiasi di malam hari mempengaruhi tahap getaran otak.
Radiasi dan daya tarikan graviti bulan purnama meningkatkan permukaan air laut dan kehidupan makhluk laut di malam hari. Juga menarik air dalam membran otak dan lebih menggetarkan sel-sel otak. Getaran sel otak menggambarkan tahap  kesedaran dan aktiviti otak.
Umat Islam dianjurkan untuk berpuasa sunat 3 hari “shaumul biidh” pada ketika bulan penuh setiap tanggal 13,14, dan 15 bulan-bulan Hijriyah dan menghidupkan malam-malamnya.
Tahap radiasi ini bervariasi antara 0-100,000 dan di skala S1-S5 oleh NOAA
Berdasarkan kajian  , radiasi sebesar 1000 MeV particles s-1 ster-1 cm-2 terjadi 10 kali dalam satu siklus 11 tahun, atau terjadi setiap 13 bulan sekali. Radiasi sebesar1000 MeV particles s-1 ster-1 cm-2 ini digolongkan dalam skala S3, dan mulai berbahaya bagi manusia sebesar 1 chest x-ray.
Radiasi dengan siklus 11.7 bulan (1 tahun hijriyah) adalah sebesar 800 MeV particles s-1 ster-1 cm-2.
Mengarah pada hipotesis malam Lailatul Qadar Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (QS Al Qadr 97:3).
Building Block
  • Siklus satu tahunan (hijriyah) bernilai 1000 x bulan purnama.
  • Malam yang nilainya 1000 bulan purnama adalah Lailatul Qadr.
  • Lailatul Qadr terjadi di bulan Ramadhan.
  • Jadi siklus badai matahari yang berulang setiap satu tahun (hijriyah) terjadi setiap bulan Ramadhan.
Itulah sebabnya
  • Sejarah para nabi menunjukkan bahawa mereka senang merenungkan hakikat kehidupan, bertapa, pada setiap bulan Ramadhan.
  • Secara
    umum wahyu-wahyu tentang ajaran agama yang memerlukan tahap pemahaman
    yang tinggi, banyak diturunkan di malam-malam bulan Ramadhan.
  • Penataan
    ayat-ayat Al Quran ke dalam surah-surah seperti yang wujud ketika ini,
    dilakukan Nabi Muhammad pada malam-malam bulan Ramadhan.
  • Umat Islam diajak untuk menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan.
  • Lebih utama adalah i’tiqaf di masjid pada 10 malam terakhir, pada malam-malam sebelum dan setelah Lailatul Qadr.
Tenaga tambahan untuk pembelajaran di bulan Ramadhan
  • Untuk dapat beribadah pada malam Ramadhan diperlukan tenaga ekstra.
  • Kenyataannya puasa siang hari bukanlah menyebabkan tubuh kekurangan / kehabisan tenaga.
  • Oleh itu puasa menggunakan 10% tenaga tubuh  kerana tidak digunakan untuk mencerna makanan.
  • Tenaga yang diguna ini sangat membantu pemahaman pelajaran di malam hari.
Three in One di bulan Ramadhan
  1. Efektif memahami Al Quran di malam hari.
  2. Detoksifikasi dan Manajemen Tenaga di siang hari.
  3. Kembali fitrah setelah berpuasa 28 hari berturut-turut.
Manfaatkan malam-malam Ramadhan
  • Untuk dapat
    dengan mudah memahami makna kehidupan secara komprehensif dan benar,
    manfaatkan kecerdassan otak di kesunyian malam Lailatul Qadar.
  • Untuk mendapat pemahaman lebih luas, malam-malam di sekitar Lailatul Qadr (10 malam terakhir Ramadhan).
  • Lebih baik lagi kalau dimulai malam pertama Ramadhan.
  • Hasil renungan malam ini harus dapat kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Nikmat hidup akan diperoleh jika kita berkontribusi positif kepada kehidupan dunia dengan berserah diri kepadaNya.
  • Nikmat kehidupan akhirat akan diperoleh bila kita mampu selalu menikmati dan mensyukuri kehidupan dunia.
Sumber dari peribadirasulullah.wordpress.com, Wallahu'alam bissawab

Ibnu Hasyim: Lailatul Qadar Menurut Kajian Saims.

Ibnu Hasyim: Lailatul Qadar Menurut Kajian Saims.: ARTIKEL tentang Lailatul Qadar ini bersumberkan dari buku tulisan Rajendra Kartawiria, Quranic Quotient Centre. Sebahagian isi...

Demokrasi Mesir, kemenangan untuk segelintir penipu besar


Tuan Guru Abdul Hadi Awang, 28 Jul 2013
Al-Quran memaparkan bahawa di Mesir tercipta sejarah kemunculan Fir’aun, raja yang memerintah kerajaan paling zalim dan penipu dalam sejarah dunia. Al Quran adalah kitab suci petunjuk sepanjang zaman, bukan sahaja hukumnya, termasuk juga ceritanya. Peristiwa terkini menjadi kenyataan yang berulang bahawa Al-Quran adalah kalam Allah yang membawa petunjuk sepanjang zaman bukannya buku cerita.

Berlaku terkini selepas Arab Spring, satu pendedahan bahawa peristiwa pertengahan abad dua puluh yang baru berlalu oleh buku berjudul: Inside The Muslim Brotherhood, karya bersama Dr Yusuf Nada dan Douglas Thompson, memaparkan kisah benar berlaku di tahun lima puluhan (26 Okt. 1954), apabila regim tentera di bawah pimpinan Presiden Gamal Abdul Nasir ingin mengatasi pengaruh Gerakan Ikhwan Muslimin yang menguasai rakyat kerana dakwah, tarbiyah dan aktiviti politik dan kemasyarakatan dalam tajuk Islam yang sempurna yang sangat adil terhadap semua.  Walaupun adanya kerjasama yang baik dan aman oleh pihak Ikhwan dalam kerajaan bagi membuat perubahan selepas tentera mengambil alih kerajaan Mesir dan sehingga Ikhwan Muslimin bersama membebaskan Mesir daripada tentera British dan pembebasan Terusan Suez. Maka kerana takut dan dengki terhadap pengaruh Ikhwan di kalangan terbesar rakyat, maka satu drama bohong dilakonkan bagi mencipta tuduhan dan fitnah menyingkir Kumpulan Islam ini daripada bersama memimpin rakyat.

Setelah pemimpin pengasasnya Hasan Al-Banna syahid ditembak mati oleh polis kerana terlibat melemahkan tentera Israel dalam perang 1948, langkah yang paling tidak disenangi oleh kuasa Barat dan Timur. Satu langkah diambil bagi menyingkirkan Hasan Al Banna dengan pembunuhan yang kejam itu, kerana jasanya yang baik, bukannya kerana dosa dan kesalahannya.

Drama penipuan dilakonkan pula selepasnya, apabila Presiden Gamal Abdul Nasir yang berucap di pentas sambutan ulang tahun pengunduran tentera British diadakan di Medan Mansyiah bandar Iskandariyyah. Presiden Nasir dipakaikan terlebih dahulu dengan baju kalis peluru. Ketika sedang berucap, seorang ditugaskan untuk menembak ke arah yang tidak mengenai apa-apa sasaran. Apabila beberapa tembakan dilakukan menyebabkan  khalayak yang berhimpun dalam keadaan huru hara. Presiden yang  ditabalkan menjadi hero tampil semula ke hadapan mikrofon sambil mengangkat tangan menegaskan: “Sekiranya Gamal Abdul Nasir mati ditembak, maka seluruh rakyat Mesir adalah Gamal Abdul Nasir”. Tukang-tukang sorak yang dipasang di setiap penjuru berjaya membakar emosi rakyat yang hadir dengan kenderaan percuma dan media upahan mendukungnya di seluruh negara.

Selepasnya Ikhwan Muslimin dituduh terlibat dengan usaha membunuh Presiden hero yang gagah berani. Akhirnya ramai pemimpin dan pengikut yang ditangkap, dibicarakan di mahkamah lakonan dan ramai tokoh yang dihukum mati atau lama dipenjara sehingga dimakan usia setelah dibebaskan, walau pun mereka adalah kawan  bersama pada mulanya namun diperlakukan apa sahaja kerana gila kuasa.


Penipuan besar yang sangat zalim ini didedahkan kepada umum oleh beberapa tokoh kerajaan Mesir setelah tua dan insaf sebelum meninggal dunia, di antaranya ialah Hasan Al Tihami mantan Ketua Perisikan di masa pemerintahan Presiden Gamal Abdul Nasir, juga penghubung  dengan CIA, merangkap mantan Timbalan Perdana Menteri di zaman Presiden Anwar Sadat dan mantan Setiausaha Agung OIC.

Setiap yang membaca sejarah Mesir moden menyaksikan Fir’aun yang dipilih melalui pilihanraya juga, tetapi mesti menang 99% pengundi. Sehinggalah lakonan menipu didedahkan dengan berlakunya Arab Spring, apabila ledakan kebangkitan rakyat yang tidak boleh disekat, memaksa mantan Presiden Husni Mubarak daripada kalangan tentera diundurkan oleh gelombang kebangkitan rakyat yang tidak mampu dihalang.

Akhirnya Mesir memilih demokrasi hak rakyat menjadi hakim yang adil, secara piliharaya yang adil  juga, bebas dan telus, diperhatikan oleh pemantau dalam negeri dan luar negeri. Apabila pilihan raya diadakan, tiba-tiba kumpulan-kumpulan  Islam mencapai kemenangan, mendapat kerusi terbesar dalam Majlis Perwakilan Rakyat dan Majlis Syura. Selepasnya semua kumpulan Islam dan kumpulan sekular sederhana bersama NGO mendukung calon Muhammad Mursi daripada Ikhwan Muslimin, sehingga berjaya ditabalkan menjadi Presiden pertama yang dipilih rakyat secara pilihanraya yang dipantau sepenuhnya.

Presiden Muhammad Mursi menunjukkan sikap yang paling terbuka dan tidak menyalahgunakan kuasanya untuk membalas dendam dan jauh sekali salah laku, sehingga disaksikan oleh seluruh rakyat. Langkahnya menubuhkan kerarajaan campuran teknokrat, melibatkan ahli politik, pentadbir dan akademik, dari kalangan mereka yang bersih daripada salah laku kerajaan dahulu dan terdahulu. Tindakan mengatasi masalah tidak mudah, kerana masih dibebani saki baki kerajaan dahulu dan pentadbirannya daripada atas sehingga ke akar umbi. Masalah yang mencengkam rakyat dan kehidupannya sejak beraja dan republik,  beberapa dekad tidak mungkin diselesaikan oleh manusia paling bijak dalam masa sehari dua atau setahun.          

Terkini berlakulah peristiwa yang menjadi perhatian seluruh dunia, drama Firaun moden menyihir rakyat yang bodoh diulang lakonan dengan pelakon dan skrip yang berubah mengikut kehendak zaman dan penipunya. Presiden Muhammad Mursi dipecat oleh tentera dan parti-parti politik yang kalah pilihanraya, diangkat memerintah negara dengan kekerasan tentera.  Sebelumnya mahkamah yang masih dianggotai oleh tangan-tangan regim dahulu, membatalkan keahlian Majlis perwakilan Rakyat (Parlimen) sehingga keahliannya tidak mencukupi. Ahli-ahli politik parti-parti yang kalah pilihanraya yang gagal menggunakan politik wang walau pun dengan bantuan jentera kerajaan yang disalahgunakan gagal mencapai kemenangan dengan segala tipu dayanya.

Terdedah kepada umum betapa para pemimpin yang kalah pilihanraya menggunakan duit dengan bantuan negara serantau, menjadi khadam kepada negara yang masih bermusuh terhadap Islam, dengan semangat Islamofobia yang masih menghantui mereka, mengharamkan kumpulan Islam memimpin kerajaan walau pun melalui proses demokrasi.

Drama dilakonkan dengan mengumpan dan mengupah supaya dilakonkan demonstrasi yang diizinkan oleh kerajaan pimpinan Dr Muhammad Mursi, dengan alasan beberapa masalah yang tidak mungkin selesai dengan cepat. Rakyat miskin yang bodoh digunakan dengan wang, khususnya penghuni kawasan setinggan, perkuburan dan kaki lima sejak zaman dahulu kerana kerajaan dahulu sengaja tidak menyelesaikannya, supaya mudah dibeli undi dan menjadi pengundi hantu. Disertakan dengan protes tanda tangan berpuluh juta rakyat yang sangat diragukan kesahihannya kerana buta huruf dan buta akal.

Seterusnya digunakan saki baki angkatan tentera yang berpangkat  tinggi, melakukan rampasan kuasa bertopengkan demokrasi haram bagi membunuh demokrasi yang sah melalui pungutan suara yang adil, semata-mata bagi menyingkirkan kumpulan berkuasa, tanpa mengira bencana buruk mungkin berlaku selepasnya sehingga perang saudara yang berlarutan bagi peluang keemasan kepada peniaga-peniaga senjata mendapat duit Arab jahiliyyah bersama Firaun baru di Mesir.

Keadaan buruk yang tidak harus diundang boleh berlaku, apabila pada asalnya kumpulan Islam radikal yang tidak feqah politik telah berjaya dipujuk oleh para ulama yang bijaksana di Mesir ikut menyertai amalan Demokrasi akan berkata bahawa Demokrasi tidak berguna lagi.  Rakyat yang cintakan keamanan dan hak yang adil juga merasakan pintunya ditutup, maka beranggapan hanya kekerasan sahaja yang boleh memecahkannya. Kesannya, keseluruhan rantau dan negara barat menyokong drama yang zalim itu. Kebimbangan ini teryata apabila banyak kalangan negara barat dan pertubuhan hak asasi manusia mengutuk perkara yang berlaku, serta mendesak supaya Presiden Muhammad Mursi dibebaskan dan pilihanraya yang adil boleh diadakan semula dalam masa yang terdekat sekiranya tidak berpuashati terhadapnya.     

PAS bersama dengan parti-parti Islam dan NGO Islam yang lahir bersama gerakan Islah dan tajidid menyokong protes aman mengikut amalan Demokrasi yang adil dan diikuti dengan pilihanraya bebas adalah terbaik bagi umat Islam menyelsaikan masalah mereka, kerana cara yang lain hanya mengundang mudarat yang lebih besar dan kesempatan kepada musuh negara dan umat.

PRESIDEN PAS
28 Julai 2013