Sabtu, 27 Julai 2013

Itulah Dia Tuhanku


Tuan Ibrahim Tuan Man, 27 Jul 2013
Tazkirah pagi...
Kata-kata hikmat Almarhum Syeikh al-Tantawi

لايلزم أن تكون وسيما لتكون جميل
Kau tidak perlu berwajah cantik untuk dikatakan sebagai seorang yang cantik

ولا مداحا لتكون محبوبا
Dan tidak perlu memuji-muji kerana mahu menjadi seorang yang disukai

ولا غنيا لتكون سعيدا
Tidak perlu menjadi kaya untuk menjadi seorang yang bahagia

يكفي أن ترضي ربك وهو سيجعلك عند الناس جميلا و محبوبا و سعيدا
Cukuplah dengan membuatkan Tuhanmu redha dan kasih kepadamu, pasti Dia akan menjadikanmu cantik dan indah di mata manusia, disukai dan disenangi oleh semua, serta hidup bahagia

لو أصبت 99 وأخطأت مرة واحدة
Andai kau lakukan 99 kebaikan, tetapi terbuat silap sekali

لعاتبوك بالواحدة وتركوا ال 99

Manusia akan menyalahkanmu dengan kesilapan yang satu itu, dan melupakan semua 99 kebaikan yang lain

هؤلاء هم البشر !
Itulah hakikat manusia!

و لو أخطأت 99 مرة وأصبت مرة
Tetapi andainya kau lakukan 99 kesilapan, dan cuma sekali melakukan perkara kebaikan

لـغفر الله ال 99 وقبل الواحدة
Allah akan ampun semua 99 kesilapanmu dan menerima amal baktimu yang satu itu

ذاك هو ربي
Itulah Dia Tuhanku!

Jumaat, 26 Julai 2013

Perang Hunain (3)


Ustaz Abu Muhammad Harits, 26 Jul 2013
Kaum Anshar dan Ghanimah

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri RA, beliau berkata, maksudnya:

“Ketika Rasulullah SAW mulai membahagi-bahagikan ghanimah kepada beberapa tokoh Quraisy dan kabilah ‘Arab; sama sekali tidak ada dari mereka satu pun yang dari Ansar. Hal ini menimbulkan kejengkelan dalam hati orang-orang Anshar hingga berkembanglah pembicaraan di antara mereka, sampai ada yang mengatakan: “Rasulullah SAW sudah bertemu dengan kaumnya kembali.”

Kemudian masuklah Sa’d bin ‘Ubadah menemui Rasulullah RA, katanya: “Wahai Rasulullah. Orang-orang Ansar ini merasa tidak gembira terhadap tuan melihat apa yang tuan lakukan dengan harta rampasan yang diperoleh dan tuan bahagikan kepada kaummu. Engkau bahagikan kepada kabilah ‘Arab dan tidak ada satu pun Anshar yang menerima bahagian.”

Rasulullah RA bertanya: “Engkau sendiri di pihak mana, wahai Sa’d?”

Katanya: “Saya hanyalah sebahagian dari mereka.”

Kata Rasulullah SAW: “Kumpulkan kaummu.”

Lalu datang beberapa orang Muhajirin tapi baginda biarkan mereka, dan mereka pun masuk. Datang pula yang lain, tapi beliau menolak mereka. Setelah mereka berkumpul, Sa’d pun datang, katanya: “Orang-orang Ansar sudah berkumpul untukmu wahai Rasulallah.”

Rasulullah SAW pun menemui mereka, lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya. Kemudian beliau bersabda: “Wahai sekalian orang Ansar, apa pembicaraanmu yang sampai kepadaku? Apa perasaan tidak gembira yang kalian rasakan dalam hati kalian? Bukankah aku datang kepada kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi hidayah kepada kamu melalui aku? Bukankah kamu miskin lalu Allah kayakan kamu denganku? Bukankah kamu dahulu bermusuhan lalu Allah satukan hati kamu?”

Kata mereka: “Bahkan Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi kebaikan dan keutamaan.”

Rasulullah SAW menukas: “Mengapa kamu tidak membantahku, wahai kaum Ansar?”

“Dengan apa kami membantahmu, wahai Rasulullah? Padahal kepunyaan Allah dan Rasul-Nya semua kebaikan serta keutamaan,” jawab orang-orang Ansar.

Kata Rasulullah SAW: “Demi Allah, kalau kamu mahu, kamu dapat mengatakan dan pasti kamu benar dan dibenarkan: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami yang membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan terhina, kamilah yang membelamu. Engkau datang dalam keadaan terusir, kamilah yang memberimu tempat. Engkau datang dalam keadaan miskin, kamilah yang mencukupimu. Apakah kalian dapati dalam hati kamu, hai kaum Ansar keinginan terhadap sampah dunia, yang dengan itu aku melunakkan hati suatu kaum agar mereka menerima Islam, dan aku serahkan kamu kepada keislaman kamu. Tidakkah kamu redha, hai orang-orang Ansar, manusia pergi dengan kambing dan unta mereka, sedangkan kamu pulang ke kampung halamanmu membawa Rasulullah? Demi yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentulah aku termasuk salah seorang dari Ansar. Seandainya manusia menempuh satu lembah, dan orang-orang Ansar melewati lembah lain, pastilah aku ikut melewati lembah yang dilalui orang-orang Ansar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Ansar, anak-anak kaum Ansar, dan cucu-cucu kaum Ansar.”

Mendengar ini, menangislah orang-orang Ansar hingga basah janggut-janggut mereka, sambil berkata: “Kami redha bahagian kami adalah Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah SAW pergi, dan kami pun bersurai.


Perang Thaif

Sebahagian besar pasukan Hawazin dan Tsaqif yang melarikan diri akhirnya masuk ke benteng Thaif bersama panglima mereka, Malik bin ‘Auf An-Nadhari. Maka Rasulullah SAW pun bergerak mengejar mereka setelah mengumpulkan ghanimah di Ji’ranah bulan itu juga.

Khalid bin Al-Walid bersama 1,000 perajurit mendahului di barisan hadapan. Kemudin Rasulullah SAW menyusul ke Thaif. Dalam perjalanan itu pasukan muslimin diperintah menghancurkan benteng Malik bin ‘Auf yang ada di Liyyah. Setelah tiba di Thaif, mereka mengepung benteng tersebut hingga beberapa hari. Ada yang mengatakan 40 hari, tapi ahli sejarah menyebutkan sekitar 20 hari.

Dalam pengepungan ini terjadi saling lempar batu dan panah. Pada awal pengepungan itu, kaum muslimin diserang dari dalam benteng bertubi-tubi sehingga menyebabkan beberapa orang terluka dan sekitar 12 orang gugur. Akhirnya mereka pindah ke tempat yang sekarang dibangun masjid Thaif dan bermarkas di sana.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan untuk melemparkan manjaniq (peluru besi berapi) hingga melubangi dinding benteng. Beberapa pasukan berusaha menerobos masuk dari bawah dinding, tetapi disambut dengan ranjau-ranjau besi yang membara. Akhirnya kaum muslimin keluar, dan mereka diserang lagi dengan panah sehingga beberapa orang muslimin gugur.

Melihat ini Rasulullah SAW memerintahkan agar menebang dan membakar ladang-ladang anggur mereka. Hal ini membuat cemas orang-orang Tsaqif, lalu mereka meminta kepada Nabi SAW agar beliau membiarkan tanaman tersebut. Baginda pun membiarkannya.

Setelah itu, Rasulullah SAW memerintahkan agar diserukan bahwasanya siapa saja budak yang keluar dari benteng dan datang kepada Rasulullah SAW maka dia merdeka. Mendengar ini, keluar 23 orang budak termasuk Abu Bakrah. Dia memanjat dinding benteng dan turun dengan timba bulat yang dipakai untuk mengambil air minum lalu menemui Rasulullah SAW. Oleh Rasulullah SAW, dia pun diberi kuniah Abu Bakrah. Rasulullah SAW membebaskan mereka dan menyerahkan masing-masing mereka kepada seorang muslim untuk dijaga. Hal ini semakin menyusahkan penghuni benteng.

Semakin lama pengepungan semakin berat dan menyusahkan pasukan muslimin. Terlebih lagi para penghuni benteng telah menyiapkan bekal untuk bertahan selama setahun. Akhirnya Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabatnya untuk meninggalkan benteng tersebut.

Naufal bin Mu’awiyah Ad-Daili menyarankan kepada Rasulallah: “Mereka itu seperti pelanduk di lubangnya. Kalau tuan tetap mengepungnya nescaya tuan dapat menangkapnya. Tapi kalau tuan membiarkannya, maka dia tidak akan merugikan tuan.”

Saat itulah Rasulullah SAW bertekad meninggalkan benteng. Beliau memerintahkan ‘Umar bin Al-Khathab bahawa mereka akan pulang esok. Tetapi ada sebahagian sahabat yang tidak menerima dan berasa keberatan, kata mereka: “Kita pergi dari sini padahal kita belum menaklukkan mereka?”

Rasulullah SAW pun menukas: “Kita berangkat untuk perang.” Maka keesokan paginya mereka berangkat untuk menyerang, tetapi mereka malah mendapat serangan hebat hingga ada yang terkorban. Akhirnya Rasulullah SAW berkata pula: “Kita bersiap untuk pulang besok, Insya-Allah.” Tentu saja hal ini menyenangkan para sahabat. Mereka pun tunduk menerima dan mulai bertolak untuk pulang, sedangkan Rasulullah SAW tertawa.

Ada yang mengatakan kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, doakanlah kejelekan terhadap Tsaqif.”

Kata Rasulullah SAW: “Ya Allah, berilah hidayah kepada Tsaqif dan datangkanlah mereka.”

Akhirnya Rasulullah SAW kembali ke Ji’ranah menunggu beberapa hari sebelum membahagi-bahagikan ghanimah dengan harapan Hawazin akan datang dalam keadaan taubat dan menerima Islam, lalu beliau akan menyerahkan kepada mereka harta dan keluarga mereka. Akan tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang datang menemui beliau hingga beliau pun membahagi-bahagikan ghanimah tersebut.

Utusan Hawazin

Setelah membahagi-bahagikan ghanimah, tidak berapa lama datanglah utusan Hawazin seramai 14 orang dipimpin oleh Zuhair bin Shurad termasuk Abu Burqan, bapa saudara susuan Rasulullah   SAW. Mereka masuk Islam dan berbai’at lalu berkata: “Wahai Rasulullah. Sesungguhnya di antara yang jadi tawanan anda ini adalah ibumu dan saudara perempuanmu, ‘ammah (bibi dari pihak ayah) dan khalah (bibi dari pihak ibu, yakni dari susuan).”

Rasulullah SAW berkata kepada mereka: “Yang bersamaku adalah seperti yang kamu lihat. Yang paling aku sukai adalah perkataan yang paling jujur. Anak isteri kalian yang lebih kalian sukai untuk dikembalikan ataukah harta kalian?”

Kata mereka: “Kami tidak akan menukar anak-anak dan isteri-isteri kami dengan harta sedikitpun.”

Baginda pun berkata: “Seusai solat zuhur datanglah dan katakan: ‘Kami mencari syafaat kepada Rasulullah SAW menghadapi kaum muslimin dan mengharap syafaat kepada kaum muslimin menghadapi Rasulullah SAW agar mengembalikan kepada kami tawanan yang ada’.”

Selesai solat zuhur, mereka berdiri dan mengucapkan hal itu. Rasulullah SAW pun berkata: “Adapun yang di tanganku dan Bani ‘Abdil Muthalib maka itu dikembalikan kepada kalian. Aku akan mintakan hak kalian kepada kaum muslimin.”

Mendengar perkataan beliau, kaum Muhajirin dan Anshar berkata: “Apa yang ada di tangan kami maka itu untuk Rasulullah SAW.”

Al-Aqra’ bin Habis berkata: “Adapun saya dan Bani Tamim, tidak akan menyerahkan tawanan kami.”

‘Uyainah bin Hishn juga menukas: “Apa yang di tangan saya dan Bani Fazarah tidak akan kami serahkan.”

Al-’Abbas bin Mirdas juga berucap: “Yang di tanganku dan Bani Sulaim tidak akan kami serahkan.” Tetapi Bani Sulaim justeru mengatakan: “Apa yang di tangan kami maka itu milik Rasulullah SAW.”

Mendengar ini, Al-’Abbas bin Mirdas berkata kecewa: “Kalian memalukanku.”

Rasulullah SAW pun berkata: “Sesungguhnya mereka ini datang dalam keadaan muslim. Aku sudah menjauhkan tawanan mereka dan memberi mereka pilihan. Tapi mereka tidak akan menukar anak isteri mereka dengan apapun. Maka siapa yang masih menahan tawanan dan rela hatinya serta mahu mengembalikan, itu adalah haknya. Dan siapa yang mahu menahan haknya hendaklah dia mengembalikannya juga kepada mereka dan akan diganti haknya itu setiap bahagiannya dengan enam kali lipat dari fai’ yang pertama Allah anugerahkan kepada kami.”

Akhirnya kaum muslimin pun berkata: “Kami lebih suka menyerahkannya kepada Rasulullah SAW.”

Kata Baginda: “Kami tidak tahu siapa di antara kamu yang rela dan yang tidak. Kembalilah hingga cerdik pandai di kalangan kamu menyerahkan urusannya kepada kami.”
Akhirnya, mereka pun mengembalikan anak-anak dan isteri-isteri orang-orang Hawazin tersebut. Tidak ada yang tertinggal kecuali ‘Uyainah bin Hishn yang akhirnya menyerahkan juga seorang wanita tua yang jadi tawanannya. Rasulullah SAW pun memberi pakaian kepada setiap tawanan.

Setelah selesai membahagi dan mengembalikan tawanan, Rasulullah SAW menuju Ji’ranah dan bersiap ‘umrah lalu kembali pulang ke Madinah. Beliau tugaskan ‘Attab bin Usaid mengatur urusan kaum muslimin di Makkah.

Pada bulan Zulkaedah tahun ke-8 hijrah, rombongan kaum muslimin mulai bertolak kembali ke Madinah.

Utusan Tsaqif

Sebelum tiba di Madinah, salah seorang pemuka Tsaqif yaitu ‘Urwah bin Mas’ud datang menemui Rasulullah SAW setelah usai perang Thaif, pada bulan Zulkaedah. Dia masuk Islam lalu kembali kepada kaumnya untuk mengajak mereka masuk Islam. Karena kedudukannya sebagai pemuka yang ditaati di tengah-tengah kaumnya, ‘Urwah mengira mereka akan mengikuti pula jejaknya masuk Islam.

Tetapi, setelah dia mengajak mereka, ternyata mereka menembakinya dengan panah dari segala penjuru sampai akhirnya dia terkorban.

Penduduk Tsaqif kembali seperti biasa selama beberapa bulan. Kemudian mereka bermusyawarah melihat kenyataan bahwa mereka tidak mungkin sanggup melawan kabilah ‘Arab di sekitar mereka yang sudah masuk Islam dan berbai’at. Akhirnya mereka ingin mengutus ‘Abd Ya Lail bin ‘Amr.

Tapi ‘Abd Ya Lail menolak. Dia bimbang kejadian yang menimpa ‘Urwah akan dialaminya juga, dia pun berkata: “Aku tidak mahu kecuali kalian utus juga beberapa orang bersamaku.”

Mereka pun mengutus beberapa orang termasuk ‘Utsman bin Abil ‘Ash yang paling muda di antara mereka.

Ketika mereka menemui Rasulullah SAW, beliau sediakan kemah buat mereka di sudut masjid agar mereka mendengar al-Qur’an dan melihat kaum muslimin mengerjakan solat.

Akhirnya, mereka tinggal di sana silih berganti menemui Rasulullah SAW yang selalu mengajak mereka kepada Islam. Hingga suatu ketika, pemimpin rombongan itu meminta agar Rasulullah SAW membuat kesepakatan antara beliau dengan Tsaqif. Mereka minta agar beliau mengizinkan mereka berzina, minum khamr, memakan riba, dan membiarkan al-Latta tetap menjadi sembahan mereka serta tidak mengerjakan solat. Mereka juga minta agar berhala mereka tidak dihancurkan oleh tangan mereka sendiri.

Tapi, semua keinginan mereka itu ditolak oleh Rasulullah SAW. Melihat ini, utusan Tsaqif kehabisan akal dan melihat tidak ada jalan lain kecuali mereka harus menerima dan tunduk kepada Islam. Akhirnya mereka masuk Islam dan minta kepada Rasulullah SAW agar menugaskan orang lain menghancurkan al-Latta.

Rasulullah SAW mengabulkan permintaan mereka dan mengangkat ‘Utsman bin Abil ‘Ash sebagai pemimpin mereka. Hal itu kerana utusan tersebut setiap pagi datang kepada Rasulullah SAW dan meninggalkan ‘Utsman. Apabila mereka kembali dan tidur pada waktu siang, maka ‘Utsman datang menemui Rasulullah SAW minta dibacakan al-Qur’an dan bertanya tentang Islam. Kalau dia dapati Rasulullah SAW sedang tidur, dia datang menemui Abu Bakr dengan maksud yang sama, belajar tentang Islam.

Kemudiannya, ‘Utsman menjadi orang yang paling besar sumbangan kepada kaumnya pada zaman riddah (murtadnya beberapa kabilah). Ketika penduduk Tsaqif juga terikut-ikut ingin murtad, dia berkata kepada mereka: “Wahai penduduk Tsaqif. Kalian adalah orang yang paling akhir masuk Islam, maka janganlah kalian menjadi orang yang pertama murtad.” Akhirnya mereka pun tetap di atas Islam.

Para utusan itu kembali tetapi menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Mereka menakut-nakuti penduduk lain bahawa mereka akan diserang dan dibunuh. Mereka nampakkan kesedihan dan kepedihan, bahawa Rasulullah SAW meminta mereka meninggalkan zina, arak, riba dan sebagainya, kalau tidak dia akan memerangi mereka.

Hal itu mendorong bangkitnya sentimen jahiliah penduduk Tsaqif, maka mereka menolak hal itu. Mereka tenang selama dua atau tiga hari bersiap untuk perang. Kemudian Allah SWT masukkan ke dalam hati mereka rasa takut. Mereka pun menemui para utusan itu dan berkata: “Kembalilah kepadanya (Rasulullah SAW) dan berikan apa yang dimintanya.”

Saat itu juga para utusan itu menyampaikan apa yang sebenarnya. Mereka menunjukkan kesepakatan yang telah ditetapkan antara Rasulullah SAW dengan mereka. Akhirnya, penduduk Tsaqif masuk Islam.

Tidak lama kemudian, Rasulullah SAW mengirim beberapa orang untuk menghancurkan al-Latta. Beliau melantik Khalid bin Al-Walid sebagai pemimpin rombongan.

Sesampai di sana, Al-Mughirah bin Syu’bah memukulkan palu yang ditangannya, kemudian dia terjatuh. Ini membuat penduduk Thaif kecoh, dan berkata: “Semoga Allah jauhkan Al-Mughirah, semoga dia dibunuh dewi itu (al-Latta).”

Al-Mughirah melompat dan berkata: “Semoga Allah memburukkan kamu. Dia hanyalah benda hina, sebongkah batu dan bulu.”

Dia pun menghancurkan pintu dan naik ke tembok tempat pemujaan. Lalu naik pula beberapa orang dan meruntuhkan bangunan itu serta meratakannya dengan tanah sampai mencabut tapaknya. Mereka keluarkan kain dan perhiasan pemujaan itu. Sementara orang-orang Tsaqif terdiam, melihat pujaan mereka tidak berdaya apa-apa.

Setelah itu, rombongan Khalid kembali dan menyerahkan perhiasan tempat pemujaan itu dan dibahagi-bahagikan oleh Rasulullah SAW hari itu juga sambil memuji Allah SWT atas pertolongan-Nya kepada Nabi-Nya dan agama-Nya.

http://www.salafy.or.id

Selasa, 23 Julai 2013

Sahabat kurniaan Allah


Dato' Tuan Ibrahim bin Tuan Man, 23 Jul 2013
Wahai anakku,

Jangan sesekali engkau mencari nahas dengan sahabat-sahabatmu dengan sikap suka membandingmu. Jika engkau sayang pada persahabatan dengan sahabatmu, jangan sesekali kamu menyoal 'siapa yang berkorban lebih banyak untuk siapa.’

Jika engkau inginkan sahabatmu kekal sebagai sahabatmu, jangan sesekali kamu mengungkit perkara yang lepas-lepas tatkala kamu marah dan tersinggung untuk beberapa saat itu.

Untuk menjaga persahabatan, wahai anakku, elakkan dari menuduh dan berkata-kata buruk tatkala kamu diracun oleh mainan minda dan sangka buruk pada sahabatmu tanpa usul periksa.

Wahai anakku,
Untuk mudah menerima sahabatmu sepenuhnya, kamu ingatlah selalu pada waktu-waktu gembiramu bersamanya apabila berdepan dengan perbezaan pendapat.

Untuk pastikan hubungan itu berkekalan, jangan sesekali engkau memperbesarkan kesilapan sahabatmu dan memperkecilkan usaha sahabatmu. Jangan biarkan egomu merasakan diri betul dan sahabatmu sentiasa silap kerana kamu cuma seorang insan yang penuh dosa dan mudah berbuat silap.

Wahai anakku,
Untuk mengelakkan sengketa dengan sahabatmu, janganlah engkau terlalu fokus dengan perbezaan pendapat daripada persamaan pendapat bersamanya. Walaupun kamu lebih tua daripada sahabatmu, jangan sesekali merasakan diri engkau lebih pandai dan besar daripadanya ketika bersahabat. Engkau tidak tahu mungkin umur kamu lebih pendek daripada sahabatmu yang lebih muda daripada kamu.

Wahai anakku,
Aku sedar nasihat aku ini bukan mudah untuk dilaksanakan. Aku juga berdepan dengan masalah ini sepanjang hidupku, namun aku selalu mengingatkan diri sahabat adalah kurniaan Allah. Dan dengan itu, aku hargainya selagi dia ada. Bilamu berasa marah, cuba bayangkan besok hari terakhirmu di dunia ini, apakah berbaloi perkara yang kamu marahkan pada dia yang bergelar sahabat?

Jaga hati sahabatmu, wahai anakku, kerana pengkhianatan tidak mungkin datang daripada musuhmu.

Senyum.

Isnin, 22 Julai 2013

Beberapa kesilapan sepanjang Ramadhan


Zaharuddin Abd Rahman, 22 Jul 2013
Pada hemat saya, kita bolehlah mengatakan bahawa objektif atau sasaran yang perlu dicapai oleh Muslim dalam bulan Ramadhan ini kepada dua yang terutama. Iaitu taqwa dan keampunan. Perihal objektif taqwa telah disebut dengan jelas di dalam ayat 183 dalam surah al-Baqarah. Manakala objektif ‘mendapatkan keampunan' ternyata dari hadis sahih tentang Sayyidatina Aisyah RA yang bertanya kepada nabi doa yang perlu dibaca tatkala sedar sedang mendapat lailatul qadar. Maka doa ringkas yang diajar oleh Nabi SAW adalah doa meminta keampunan Allah SWT.

Bagaimanapun, kemampuan untuk mendapatkan kesempurnaan pahala ramadhan kerap kali tergugat akibat kekurangan ilmu dan kekurang perihatinan umat Islam kini. Antara yang saya maksudkan adalah :-

1.Makan dan minum dengan bebas setelah batal puasa dengan sengaja (bukan kerana uzur yang diterima Islam). Perlu diketahui bahawa sesiapa yang batal puasanya dengan sengaja tanpa uzur seperti mengeluarkan mani secara sengaja, merokok, makan dan minum. Ia dilarang untuk makan dan minum lagi atau melakukan apa jua perkara yang membatalkan puasa yang lain sepanjang hari itu. (Fiqh as-Siyam, Al-Qaradawi, hlm 112).

Ia dikira denda yang pertama baginya selain kewajiban menggantikannya kemudiannya. Keadaan ini disebut di dalam sebuah hadis, Ertinya: "sesungguhnya sesiapa yang telah makan (batal puasa) hendaklah ia berpuasa baki waktu harinya itu." (Riwayat al-Bukhari)

2.Makan sahur ketika waktu tengah malam kerana malas bangun pada akhir malam. Jelasnya, individu yang melakukan amalan ini terhalang dari mendapat keberkatan dan kelebihan yang ditawarkan oleh Nabi SAW malah bercanggah dengan sunnah baginda. "Sahur" itu sendiri dari sudut bahasanya adalah waktu terakhir di hujung malam. Para Ulama pula menyebut waktunya adalah 1/6 terakhir malam. (Awnul Ma'bud, 6/469). Imam Ibn Hajar menegaskan melewatkan sahur adalah lebih mampu mencapai objektif yang diletakkan oleh Nabi SAW. (Fath al-Bari, 4/138)

3.Bersahur dengan hanya makan dan minum sahaja tanpa ibadah lain. Ini satu lagi kesilapan umat Islam kini, waktu tersebut pada hakikatnya adalah antara waktu terbaik untuk beristigfar dan menunaikan solat malam.

Firman Allah ketika memuji orang mukmin yang bermaksud:

"Dan ketika waktu-waktu bersahur itu mereka meminta ampun dan beristighfar."
(Surah az-Zariyyat : ayat 18)

Ertinya : "Ditanya kepada Nabi (oleh seorang sahabat): Wahai Rasulullah: Waktu bilakah doa paling didengari (oleh Allah SWT); jawab Nabi: Pada hujung malam (waktu sahur) dan selepas solat fardhu." (Riwayat At-Tirmidzi, no 3494 , Tirmidzi & Al-Qaradhawi: Hadis Hasan ; Lihat Al-Muntaqa , 1/477)

4.Tidak menunaikan solat ketika berpuasa. Ia adalah satu kesilapan yang maha besar. Memang benar, solat bukanlah syarat sah puasa. Tetapi ia adalah rukun Islam yang menjadi tonggak kepada keislaman sesorang. Justeru, ‘ponteng' solat dengan sengaja akan menyebabkan pahala puasa seseorang itu menjadi ‘kurus kering' pastinya.

5.Tidak mengutamakan solat Subuh berjemaah sebagaimana Terawih. Ini jelas suatu kelompongan yang ada dalam masyarakat tatakala berpuasa. Ramai yang lupa dan tidak mengetahui kelebihan besar semua solat fardhu berbanding solat sunat, teruatamnya solat subuh berjemaah yang disebutkan oleh Nabi SAW bagi orang yang mendirikannya secara berjemaah, maka beroleh pahala menghidupkan seluruh malam.

6.Menunaikan solat terawih di masjid dengan niat inginkan meriah. Malanglah mereka kerana setiap amalan dikira dengan niat, jika niat utama seseorang itu (sama ada lelaki atau wanita) hadir ke masjid adalah untuk meriah dan bukannya atas dasar keimanan dan mengharap ganjaran redha Allah sebagaimana yang ditetapkan oleh Nabi SAW di dalam hadis riwayat al-Bukhari. Maka, "Sesungguhnya sesuatu amalan itu dikira dengan niat". (Riwayat al-Bukhari)

7.Bermalasan dan tidak produktif dalam kerja-kerja pada siang hari dengan alasan berpuasa. Sedangkan, kerja yang kita lakukan di pejabat dengan niat ibadat pastinya menambahkan lagi pahala. Justeru, umat Islam sewajarnya memperaktifkan produktiviti mereka dan bukan mengurangkannya ketika Ramadhan ini.

8.Memperbanyakkan tidur di siang hari dengan alasan ia adalah ibadat. Sedangkan Imam As-Sayuti menegaskan bahawa hadis yang menyebut berkenaan tidur orang berpuasa itu ibadat adalah amat lemah. (al-Jami' as-Soghir ; Faidhul Qadir, Al-Munawi, 6/291)

9.Menganggap waktu imsak sebagai ‘lampu merah' bagi sahur. Hal ini adalah kerana waktu imsak sebenarnya tidak lain hanyalah ‘lampu amaran oren' yang di cadangkan oleh beberapa ulama demi mengingatkan bahawa waktu sahur sudah hampir tamat. Ia bukanlah waktu tamat untuk makan sahur, tetapi waktu amaran sahaja. Lalu, janganlah ada yang memberi alasan lewat bangun dan sudah masuk imsak lalu tidak dapat berpuasa pada hari itu. Waktu yang disepakti ulama merupakan waktu penamat sahur adalah sejurus masuk fajar sadiq (subuh). (As-Siyam, Dr Md ‘Uqlah, hlm 278)

10.Wanita berterawih beramai-ramai di masjid tanpa menjaga aurat. Ini nyata apabila ramai antara wanita walaupun siap bertelekung ke masjid, malangnya kaki dan aurat mereka kerap terdedah dan didedahkan berjalan dan naik tangga masjid di hadapan jemaah lelaki. Tatkala itu, fadhilat mereka solat di rumah adalah lebih tinggi dari mendatangkan fitnah buat lelaki ketika di masjid.

11.Memasuki Ramadhan dalam keadaan harta masih dipenuhi dengan harta haram, sama ada terlibat dengan pinjaman rumah, kad kredit, insuran, pelaburan dan kereta secara riba. Ini sudah tentu akan memberi kesan yang amat nyata kepada kualiti ibadah di bulan Ramadhan, kerana status orang terlibat dengan riba adalah sama dengan berperang dengan Allah dan Rasul-Nya, tanpa azam dan usaha untuk mengubahnya dengan segera di bulan 'tanpa Syaitan' ini, bakal menyaksikan potensi besar untuk gagal terus untuk kembali ke pangkal jalan di bulan lain.

Nabi Muhammad menceritakan, maksudnya:

“Menyebut tentang seorang pemuda yang bermusafir dalam perjalanan yang jauh, walhal rambutnya kusut masai, mukanya berdebu di mana dia mengangkat tangan ke langit: Wahai Tuhanku... wahai Tuhanku... sedangkan makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram.. Dan dia dibesarkan dengan memakan makanan haram maka bagaimana Kami mahu mengabulkan doanya.”
(Riwayat Muslim, no 1015, 2/703; hadis sahih)

Justeru, bagaimana Allah mahu memakbulkan doa orang yang berpuasa sedangkan keretanya haram, rumahnya haram, kad kreditnya haram, insurannya haram, simpanan banknya haram, pendapatannya haram? Benar, kita perlu bersangka baik dengan Allah, tetapi sangka baik tanpa meloloskan diri daripada riba yang haram adalah penipuan kata Imam Hasan Al-Basri.

12.Tidak memperbanyakkan doa tatkala berpuasa dan berbuka. Ini satu lagi jenis kerugian yang kerap dilakukan oleh umat Islam. Nabi SAW telah menyebut,ertinya:

"Tiga golongan yang tidak di tolak doa mereka, pemimpin yang adil, individu berpuasa sehingga berbuka dan doa orang yang di zalimi."
(Riwayat At-Tirmizi, 3595, Hasan menurut Tirmizi. Ahmad Syakir : Sohih )

Selain itu, doa menjadi bertambah makbul tatkala ingin berbuka berdasarkan hadis, maksdunya.

"Sesungguhnya bagi orang berpuasa itu ketika berbuka (atau hampir berbuka) doa yang tidak akan ditolak."
( Riwayat Ibn Majah, no 1753, Al-Busairi: Sanadnya sahih)

http://www.zaharuddin.net

Datuk calon BN pengasas PAS di Kuala Besut

Datuk calon BN pengasas PAS di Kuala Besut

Ahad, 21 Julai 2013

Surat terbuka untuk perantau Kuala Besut



Dr Azman Ibrahim,
Sahabatku perantau

Walau di mana saudara berada, saya doakan saudara semua dalam kesejahteraan dan rahmat Allah.

Saya masih ingat pesanan Tuan Guru Presiden PAS dalam satu program bersama Perantau, “Pulang untuk mengundi parti Islam adalah kewajipan fardhu ain bagi mereka yang berupaya...”

Kita perlu menjadi kuat demi kemenangan Islam. Jangan dihiraukan halangan yang cuba ditimbulkan oleh SPR yang sepatutnya di samping bertindak sebagai pengadil pertandingan, SPR juga perlu bertindak sebagai pemudah cara yang perlu melapangkan jalan seluas  mungkin bagi kemudahan pengundi menunaikan tanggungjawab. Sebarang tindakan untuk menghalang dan menyusahkan kepulangan pengundi untuk sama-sama menunaikan tanggungjawab di medan demokrasi adalah suatu tindakan tidak beretika yang perlu dicanggah.

Kita mengetahui betapa kesukaran sahabat semua untuk bermusafir dibulan Ramadhan ini tetapi jangan lupa bahawa Peperangan Badar, persiapan Peperangan Khandak, pembukaan Kota Mekah, Peperangan ‘Ain Jalut, pembebasan Baitul Maqdis oleh Salahuddin al Ayyubi, pembukaan Andalusia oleh Tariq bin Ziad semuanya berlaku di bulan Ramadhan. Alangkah kerdilnya kita sekiranya Ramadhan dijadikan alasan untuk kita tidak pulang mengundi.

Sahabatku

Sekadar membelanjakan sedikit wang minyak yang mungkin boleh dituntut semula serta hanya perlu memangkah di atas sekeping kertas, ternyata ianya sangat minima. Walaupun minima, ganjarannya besar di sisi Allah dengan  syarat yang dipangkah adalah parti yang ingin meninggikan agama Allah.

Saudara mungkin berkata, “Allah... dekat sangat dah dengan hari raya, balik mengundi 24 haribulan ni, lepas tu hari raya kena balik pulok!” Saya sekadar ingin bertanya, kalau Islam tak menang kerana disebabkan ketidak pulangan saudara untuk mengundi, bolehkah dengan jawapan di atas saudara jawab di hadapan Allah dan saudara yakin mampu melepaskan diri? Sekiranya yakin alasan sebegini boleh diterima, maka silakan. Tetapi bagi saya lebih mulia untuk kita berada dimartabat orang yang menjadi penyebab kepada kemenangan Islam dari menjadi yang sebaliknya.

Sahabatku perantau

Saudara tentu memaklumi bagaimana kebimbangan Umno dengan pengundi yang celik mata dan hati serta bermaklumat seperti saudara semua. Hari mengundi dihari Rabu serta ketika hampir dengan hari raya adalah percubaan dayus untuk menggagalkan penyertaan saudara semua dalam Pilihanraya Kecil Kuala Besut ini. Saudara nak tengok hilai tawa Umno yang penuh keangkuhan atau kita ingin sama-sama letakkan noktah kepada kepada kebebalan mereka? Kalau saya, tentunya saya memilih untuk kita akhiri segala drama jijik Umno sepanjang kempen Pilihanraya Kecil ini dengan takbir kemenangan.

Sahabatku perantau

Angka 16:16 mesti direalisasikan. Setiap kita berkewajipan. Saudara semua tentu memaklumi perit jerih sahabat-sahabat pengundi dan petugas di lapangan yang telah melakukan segala pengorbanan masa, tenaga, wang ringgit, hati dan perasaan semenjak dari hari kekosongan kerusi N01 diisytiharkan. Mereka telah menunaikan kewajipan mereka. Hakikatnya dihari mengundi sekuat mana pun mereka, hanya satu undi yang mampu mereka sumbangkan, satu undi lagi ada pada saudara. Jangan sia-siakan ia.  Pulanglah perantau pakoh PAS!

Sabtu, 20 Julai 2013