|
Ustaz Abu Muhammad Harits,
|
26 Jul 2013
|
Kaum Anshar dan GhanimahAl-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri RA, beliau berkata, maksudnya:
“Ketika
Rasulullah SAW mulai membahagi-bahagikan ghanimah kepada beberapa tokoh
Quraisy dan kabilah ‘Arab; sama sekali tidak ada dari mereka satu pun
yang dari Ansar. Hal ini menimbulkan kejengkelan dalam hati orang-orang
Anshar hingga berkembanglah pembicaraan di antara mereka, sampai ada
yang mengatakan: “Rasulullah SAW sudah bertemu dengan kaumnya kembali.”
Kemudian
masuklah Sa’d bin ‘Ubadah menemui Rasulullah RA, katanya: “Wahai
Rasulullah. Orang-orang Ansar ini merasa tidak gembira terhadap tuan
melihat apa yang tuan lakukan dengan harta rampasan yang diperoleh dan
tuan bahagikan kepada kaummu. Engkau bahagikan kepada kabilah ‘Arab dan
tidak ada satu pun Anshar yang menerima bahagian.”
Rasulullah RA bertanya: “Engkau sendiri di pihak mana, wahai Sa’d?”
Katanya: “Saya hanyalah sebahagian dari mereka.”
Kata Rasulullah SAW: “Kumpulkan kaummu.”
Lalu
datang beberapa orang Muhajirin tapi baginda biarkan mereka, dan mereka
pun masuk. Datang pula yang lain, tapi beliau menolak mereka. Setelah
mereka berkumpul, Sa’d pun datang, katanya: “Orang-orang Ansar sudah
berkumpul untukmu wahai Rasulallah.”
Rasulullah SAW pun menemui
mereka, lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan pujian yang
layak bagi-Nya. Kemudian beliau bersabda: “Wahai sekalian orang Ansar,
apa pembicaraanmu yang sampai kepadaku? Apa perasaan tidak gembira yang
kalian rasakan dalam hati kalian? Bukankah aku datang kepada kalian
dalam keadaan sesat lalu Allah memberi hidayah kepada kamu melalui aku?
Bukankah kamu miskin lalu Allah kayakan kamu denganku? Bukankah kamu
dahulu bermusuhan lalu Allah satukan hati kamu?”
Kata mereka: “Bahkan Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi kebaikan dan keutamaan.”
Rasulullah SAW menukas: “Mengapa kamu tidak membantahku, wahai kaum Ansar?”
“Dengan
apa kami membantahmu, wahai Rasulullah? Padahal kepunyaan Allah dan
Rasul-Nya semua kebaikan serta keutamaan,” jawab orang-orang Ansar.
Kata
Rasulullah SAW: “Demi Allah, kalau kamu mahu, kamu dapat mengatakan dan
pasti kamu benar dan dibenarkan: ‘Engkau datang kepada kami dalam
keadaan didustakan, lalu kami yang membenarkanmu. Engkau datang dalam
keadaan terhina, kamilah yang membelamu. Engkau datang dalam keadaan
terusir, kamilah yang memberimu tempat. Engkau datang dalam keadaan
miskin, kamilah yang mencukupimu. Apakah kalian dapati dalam hati kamu,
hai kaum Ansar keinginan terhadap sampah dunia, yang dengan itu aku
melunakkan hati suatu kaum agar mereka menerima Islam, dan aku serahkan
kamu kepada keislaman kamu. Tidakkah kamu redha, hai orang-orang Ansar,
manusia pergi dengan kambing dan unta mereka, sedangkan kamu pulang ke
kampung halamanmu membawa Rasulullah? Demi yang jiwa Muhammad di
Tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentulah aku termasuk salah
seorang dari Ansar. Seandainya manusia menempuh satu lembah, dan
orang-orang Ansar melewati lembah lain, pastilah aku ikut melewati
lembah yang dilalui orang-orang Ansar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang
Ansar, anak-anak kaum Ansar, dan cucu-cucu kaum Ansar.”
Mendengar
ini, menangislah orang-orang Ansar hingga basah janggut-janggut mereka,
sambil berkata: “Kami redha bahagian kami adalah Rasulullah.”
Kemudian Rasulullah SAW pergi, dan kami pun bersurai.Perang ThaifSebahagian
besar pasukan Hawazin dan Tsaqif yang melarikan diri akhirnya masuk ke
benteng Thaif bersama panglima mereka, Malik bin ‘Auf An-Nadhari. Maka
Rasulullah SAW pun bergerak mengejar mereka setelah mengumpulkan
ghanimah di Ji’ranah bulan itu juga.
Khalid bin Al-Walid bersama
1,000 perajurit mendahului di barisan hadapan. Kemudin Rasulullah SAW
menyusul ke Thaif. Dalam perjalanan itu pasukan muslimin diperintah
menghancurkan benteng Malik bin ‘Auf yang ada di Liyyah. Setelah tiba di
Thaif, mereka mengepung benteng tersebut hingga beberapa hari. Ada yang
mengatakan 40 hari, tapi ahli sejarah menyebutkan sekitar 20 hari.
Dalam
pengepungan ini terjadi saling lempar batu dan panah. Pada awal
pengepungan itu, kaum muslimin diserang dari dalam benteng bertubi-tubi
sehingga menyebabkan beberapa orang terluka dan sekitar 12 orang gugur.
Akhirnya mereka pindah ke tempat yang sekarang dibangun masjid Thaif dan
bermarkas di sana.
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan untuk
melemparkan manjaniq (peluru besi berapi) hingga melubangi dinding
benteng. Beberapa pasukan berusaha menerobos masuk dari bawah dinding,
tetapi disambut dengan ranjau-ranjau besi yang membara. Akhirnya kaum
muslimin keluar, dan mereka diserang lagi dengan panah sehingga beberapa
orang muslimin gugur.
Melihat ini Rasulullah SAW memerintahkan
agar menebang dan membakar ladang-ladang anggur mereka. Hal ini membuat
cemas orang-orang Tsaqif, lalu mereka meminta kepada Nabi SAW agar
beliau membiarkan tanaman tersebut. Baginda pun membiarkannya.
Setelah
itu, Rasulullah SAW memerintahkan agar diserukan bahwasanya siapa saja
budak yang keluar dari benteng dan datang kepada Rasulullah SAW maka dia
merdeka. Mendengar ini, keluar 23 orang budak termasuk Abu Bakrah. Dia
memanjat dinding benteng dan turun dengan timba bulat yang dipakai untuk
mengambil air minum lalu menemui Rasulullah SAW. Oleh Rasulullah SAW,
dia pun diberi kuniah Abu Bakrah. Rasulullah SAW membebaskan mereka dan
menyerahkan masing-masing mereka kepada seorang muslim untuk dijaga. Hal
ini semakin menyusahkan penghuni benteng.
Semakin lama
pengepungan semakin berat dan menyusahkan pasukan muslimin. Terlebih
lagi para penghuni benteng telah menyiapkan bekal untuk bertahan selama
setahun. Akhirnya Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabatnya
untuk meninggalkan benteng tersebut.
Naufal bin Mu’awiyah Ad-Daili menyarankan kepada Rasulallah:
“Mereka itu seperti pelanduk di lubangnya. Kalau tuan tetap
mengepungnya nescaya tuan dapat menangkapnya. Tapi kalau tuan
membiarkannya, maka dia tidak akan merugikan tuan.”Saat
itulah Rasulullah SAW bertekad meninggalkan benteng. Beliau
memerintahkan ‘Umar bin Al-Khathab bahawa mereka akan pulang esok.
Tetapi ada sebahagian sahabat yang tidak menerima dan berasa keberatan,
kata mereka: “Kita pergi dari sini padahal kita belum menaklukkan
mereka?”
Rasulullah SAW pun menukas: “Kita berangkat untuk
perang.” Maka keesokan paginya mereka berangkat untuk menyerang, tetapi
mereka malah mendapat serangan hebat hingga ada yang terkorban. Akhirnya
Rasulullah SAW berkata pula: “Kita bersiap untuk pulang besok,
Insya-Allah.” Tentu saja hal ini menyenangkan para sahabat. Mereka pun
tunduk menerima dan mulai bertolak untuk pulang, sedangkan Rasulullah
SAW tertawa.
Ada yang mengatakan kepada Rasulullah SAW:
“Ya Rasulullah, doakanlah kejelekan terhadap Tsaqif.”Kata Rasulullah SAW:
“Ya Allah, berilah hidayah kepada Tsaqif dan datangkanlah mereka.”Akhirnya
Rasulullah SAW kembali ke Ji’ranah menunggu beberapa hari sebelum
membahagi-bahagikan ghanimah dengan harapan Hawazin akan datang dalam
keadaan taubat dan menerima Islam, lalu beliau akan menyerahkan kepada
mereka harta dan keluarga mereka. Akan tetapi tidak ada seorang pun dari
mereka yang datang menemui beliau hingga beliau pun membahagi-bahagikan
ghanimah tersebut.
Utusan HawazinSetelah
membahagi-bahagikan ghanimah, tidak berapa lama datanglah utusan
Hawazin seramai 14 orang dipimpin oleh Zuhair bin Shurad termasuk Abu
Burqan, bapa saudara susuan Rasulullah SAW. Mereka masuk Islam dan
berbai’at lalu berkata:
“Wahai Rasulullah. Sesungguhnya di antara
yang jadi tawanan anda ini adalah ibumu dan saudara perempuanmu, ‘ammah
(bibi dari pihak ayah) dan khalah (bibi dari pihak ibu, yakni dari
susuan).”Rasulullah SAW berkata kepada mereka:
“Yang
bersamaku adalah seperti yang kamu lihat. Yang paling aku sukai adalah
perkataan yang paling jujur. Anak isteri kalian yang lebih kalian sukai
untuk dikembalikan ataukah harta kalian?”Kata mereka: “Kami tidak akan menukar anak-anak dan isteri-isteri kami dengan harta sedikitpun.”
Baginda pun berkata:
“Seusai
solat zuhur datanglah dan katakan: ‘Kami mencari syafaat kepada
Rasulullah SAW menghadapi kaum muslimin dan mengharap syafaat kepada
kaum muslimin menghadapi Rasulullah SAW agar mengembalikan kepada kami
tawanan yang ada’.”Selesai solat zuhur, mereka berdiri dan mengucapkan hal itu. Rasulullah SAW pun berkata:
“Adapun
yang di tanganku dan Bani ‘Abdil Muthalib maka itu dikembalikan kepada
kalian. Aku akan mintakan hak kalian kepada kaum muslimin.”Mendengar perkataan beliau, kaum Muhajirin dan Anshar berkata:
“Apa yang ada di tangan kami maka itu untuk Rasulullah SAW.”Al-Aqra’ bin Habis berkata:
“Adapun saya dan Bani Tamim, tidak akan menyerahkan tawanan kami.”‘Uyainah bin Hishn juga menukas:
“Apa yang di tangan saya dan Bani Fazarah tidak akan kami serahkan.”Al-’Abbas bin Mirdas juga berucap:
“Yang di tanganku dan Bani Sulaim tidak akan kami serahkan.” Tetapi
Bani Sulaim justeru mengatakan: “Apa yang di tangan kami maka itu milik
Rasulullah SAW.”Mendengar ini, Al-’Abbas bin Mirdas berkata kecewa:
“Kalian memalukanku.”Rasulullah
SAW pun berkata: “Sesungguhnya mereka ini datang dalam keadaan muslim.
Aku sudah menjauhkan tawanan mereka dan memberi mereka pilihan. Tapi
mereka tidak akan menukar anak isteri mereka dengan apapun. Maka siapa
yang masih menahan tawanan dan rela hatinya serta mahu mengembalikan,
itu adalah haknya. Dan siapa yang mahu menahan haknya hendaklah dia
mengembalikannya juga kepada mereka dan akan diganti haknya itu setiap
bahagiannya dengan enam kali lipat dari fai’ yang pertama Allah
anugerahkan kepada kami.”
Akhirnya kaum muslimin pun berkata: “Kami lebih suka menyerahkannya kepada Rasulullah SAW.”
Kata Baginda:
“Kami tidak tahu siapa di antara kamu yang rela dan yang tidak.
Kembalilah hingga cerdik pandai di kalangan kamu menyerahkan urusannya
kepada kami.”Akhirnya, mereka pun mengembalikan anak-anak
dan isteri-isteri orang-orang Hawazin tersebut. Tidak ada yang
tertinggal kecuali ‘Uyainah bin Hishn yang akhirnya menyerahkan juga
seorang wanita tua yang jadi tawanannya. Rasulullah SAW pun memberi
pakaian kepada setiap tawanan.
Setelah selesai membahagi dan
mengembalikan tawanan, Rasulullah SAW menuju Ji’ranah dan bersiap ‘umrah
lalu kembali pulang ke Madinah. Beliau tugaskan ‘Attab bin Usaid
mengatur urusan kaum muslimin di Makkah.
Pada bulan Zulkaedah tahun ke-8 hijrah, rombongan kaum muslimin mulai bertolak kembali ke Madinah.
Utusan TsaqifSebelum
tiba di Madinah, salah seorang pemuka Tsaqif yaitu ‘Urwah bin Mas’ud
datang menemui Rasulullah SAW setelah usai perang Thaif, pada bulan
Zulkaedah. Dia masuk Islam lalu kembali kepada kaumnya untuk mengajak
mereka masuk Islam. Karena kedudukannya sebagai pemuka yang ditaati di
tengah-tengah kaumnya, ‘Urwah mengira mereka akan mengikuti pula
jejaknya masuk Islam.
Tetapi, setelah dia mengajak mereka,
ternyata mereka menembakinya dengan panah dari segala penjuru sampai
akhirnya dia terkorban.
Penduduk Tsaqif kembali seperti biasa
selama beberapa bulan. Kemudian mereka bermusyawarah melihat kenyataan
bahwa mereka tidak mungkin sanggup melawan kabilah ‘Arab di sekitar
mereka yang sudah masuk Islam dan berbai’at. Akhirnya mereka ingin
mengutus ‘Abd Ya Lail bin ‘Amr.
Tapi ‘Abd Ya Lail menolak. Dia bimbang kejadian yang menimpa ‘Urwah akan dialaminya juga, dia pun berkata:
“Aku tidak mahu kecuali kalian utus juga beberapa orang bersamaku.”Mereka pun mengutus beberapa orang termasuk ‘Utsman bin Abil ‘Ash yang paling muda di antara mereka.
Ketika
mereka menemui Rasulullah SAW, beliau sediakan kemah buat mereka di
sudut masjid agar mereka mendengar al-Qur’an dan melihat kaum muslimin
mengerjakan solat.
Akhirnya, mereka tinggal di sana silih
berganti menemui Rasulullah SAW yang selalu mengajak mereka kepada
Islam. Hingga suatu ketika, pemimpin rombongan itu meminta agar
Rasulullah SAW membuat kesepakatan antara beliau dengan Tsaqif. Mereka
minta agar beliau mengizinkan mereka berzina, minum khamr, memakan riba,
dan membiarkan al-Latta tetap menjadi sembahan mereka serta tidak
mengerjakan solat. Mereka juga minta agar berhala mereka tidak
dihancurkan oleh tangan mereka sendiri.
Tapi, semua keinginan
mereka itu ditolak oleh Rasulullah SAW. Melihat ini, utusan Tsaqif
kehabisan akal dan melihat tidak ada jalan lain kecuali mereka harus
menerima dan tunduk kepada Islam. Akhirnya mereka masuk Islam dan minta
kepada Rasulullah SAW agar menugaskan orang lain menghancurkan al-Latta.
Rasulullah
SAW mengabulkan permintaan mereka dan mengangkat ‘Utsman bin Abil ‘Ash
sebagai pemimpin mereka. Hal itu kerana utusan tersebut setiap pagi
datang kepada Rasulullah SAW dan meninggalkan ‘Utsman. Apabila mereka
kembali dan tidur pada waktu siang, maka ‘Utsman datang menemui
Rasulullah SAW minta dibacakan al-Qur’an dan bertanya tentang Islam.
Kalau dia dapati Rasulullah SAW sedang tidur, dia datang menemui Abu
Bakr dengan maksud yang sama, belajar tentang Islam.
Kemudiannya,
‘Utsman menjadi orang yang paling besar sumbangan kepada kaumnya pada
zaman riddah (murtadnya beberapa kabilah). Ketika penduduk Tsaqif juga
terikut-ikut ingin murtad, dia berkata kepada mereka:
“Wahai
penduduk Tsaqif. Kalian adalah orang yang paling akhir masuk Islam, maka
janganlah kalian menjadi orang yang pertama murtad.” Akhirnya mereka pun tetap di atas Islam.
Para
utusan itu kembali tetapi menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya.
Mereka menakut-nakuti penduduk lain bahawa mereka akan diserang dan
dibunuh. Mereka nampakkan kesedihan dan kepedihan, bahawa Rasulullah SAW
meminta mereka meninggalkan zina, arak, riba dan sebagainya, kalau
tidak dia akan memerangi mereka.
Hal itu mendorong bangkitnya
sentimen jahiliah penduduk Tsaqif, maka mereka menolak hal itu. Mereka
tenang selama dua atau tiga hari bersiap untuk perang. Kemudian Allah
SWT masukkan ke dalam hati mereka rasa takut. Mereka pun menemui para
utusan itu dan berkata:
“Kembalilah kepadanya (Rasulullah SAW) dan berikan apa yang dimintanya.”Saat
itu juga para utusan itu menyampaikan apa yang sebenarnya. Mereka
menunjukkan kesepakatan yang telah ditetapkan antara Rasulullah SAW
dengan mereka. Akhirnya, penduduk Tsaqif masuk Islam.
Tidak lama
kemudian, Rasulullah SAW mengirim beberapa orang untuk menghancurkan
al-Latta. Beliau melantik Khalid bin Al-Walid sebagai pemimpin
rombongan.
Sesampai di sana, Al-Mughirah bin Syu’bah memukulkan
palu yang ditangannya, kemudian dia terjatuh. Ini membuat penduduk Thaif
kecoh, dan berkata:
“Semoga Allah jauhkan Al-Mughirah, semoga dia dibunuh dewi itu (al-Latta).”Al-Mughirah melompat dan berkata:
“Semoga Allah memburukkan kamu. Dia hanyalah benda hina, sebongkah batu dan bulu.”Dia
pun menghancurkan pintu dan naik ke tembok tempat pemujaan. Lalu naik
pula beberapa orang dan meruntuhkan bangunan itu serta meratakannya
dengan tanah sampai mencabut tapaknya. Mereka keluarkan kain dan
perhiasan pemujaan itu. Sementara orang-orang Tsaqif terdiam, melihat
pujaan mereka tidak berdaya apa-apa.
Setelah itu, rombongan
Khalid kembali dan menyerahkan perhiasan tempat pemujaan itu dan
dibahagi-bahagikan oleh Rasulullah SAW hari itu juga sambil memuji Allah
SWT atas pertolongan-Nya kepada Nabi-Nya dan agama-Nya.
http://www.salafy.or.id