CATATAN SANTAI IBNU HASYIM

GEMPAR beberapa hari ini kisah 'harta karun' di temui di Aceh. Siapa sebenarnya Qarun itu?
Qarun
adalah kaum Nabi Musa, berkebangsaan Israel, dan bukan berasal dari
suku Qibthi (Gypsy, bangsa Mesir). Allah mengutus Musa kepadanya seperti
diutusnya Musa kepada Fir'aun dan Haman. Allah telah mengaruniai Qarun
harta yang sangat banyak dan perbendaharaan yang melimpah ruah yang
banyak memenuhi lemari simpanan.
Perbendaharaan
harta dan lemari-lemari
ini sangat berat untuk diangkat kerana beratnya isi kekayaan Qarun.,
walau diangkat oleh beberapa orang lelaki kuat dan kekar pun. Mereka
masih kewalahan.
Qarun mempergunakan harta ini dalam kesesatan, kezaliman dan permusuhan
serta membuatnya sombong. Hal ini merupakan musibah dan bencana bagi
kaum kafir dan lemah di kalangan Bani Israil. Dalam memandang Qarun dan
harta kekayaannya, Bani Israil terbagi atas dua kelompok.
Kelompok
pertama adalah kelompok orang yang beriman kepada Allah dan lebih
mengutamakan apa yang ada di sisi-Nya. Kerana itu mereka tidak terpedaya
oleh harta Qarun, dan tidak berangan-angan ingin memilikinya. Bahkan
mereka memprotes kesombongan, kesesatan, kerusakan serta berharap
agar ia menafkahkan hartanya di jalan Allah dan memberikan kontribusi
kepada hamba-hamba Allah yang lain.
Kelompok kedua ialah, yang
terpukau dan tertipu oleh harta Qarun kerana mereka telah kehilangan
tolok ukur nilai, landasan dan fondasi yang dapat digunakan untuk
menilai Qarun dan hartanya. Mereka menganggap kekayaan Qarun
merupakan bukti keridhaan dan kecintaan Allah kepadanya. Maka mereka
berangan-angan ingin bernasib seperti itu. Qarun mabuk dan
terlena oleh melimpahnya harta dan kekayaan.
Semua
itu membuatnya buta
dari kebenaran dan tuli dari nasihat-nasihat orang Mukmin. Ketika mereka
meminta Qarun untuk bersyukur kepada Allah SWT di atas, segala nikmat
harta
kekayaan.. Memintanya untuk memanfaatkan hartanya dalam hal bermanfaat,
kabaikan dan hal yang halal, Kerana semua itu adalah harta
Allah, ia justru menolak seraya mengatakan..
- Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu kerana ilmu yang ada padaku...
Murkanya Allah SWT atas kesombongan Qarun itu.
Suatu
hari, keluarlah ia kepada kaumnya dengan kemegahan dan rasa bangga,
sombong dan congkak. Maka hancurlah hati orang fakir dan silaulah
penglihatan mereka seraya berkata..
- Moga-moga kita memiliki seperti apa diberikan kepada Qarun; sesungguhnya
ia benar-benar mempunyai untung besar.
Tetapi orang-orang mukmin yang dianugerahi ilmu, menasihati orang-orang yang tertipu seraya berkata; Celakaan besar kamu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang beriman dan beramal saleh….
Maka, berlakulah sunnatullah atasnya dan murka Allah menimpanya.
Hartanya menyebabkan Allah murka, menyebabkan dia hancur, dan datangnya
siksa Allah. Maka Allah membenamkan harta dan rumahnya kedalam bumi,
kemudian terbelah dan mengangalah bumi.
Tenggelamlah ia beserta
harta miliknya, disaksikan oleh orang-orang Bani Israil.
Tidak seorangpun yang dapat menolong dan menahannya dari bencana itu,
tidak bermanfaat harta kekayaan dan perbendaharannya. Melihat itu, bertambahlah keimanan orang-orang yang beriman dan sabar. Adapaun mereka
yang telah tertipu dan pernah berangan-angan jadi seperti Qarun, akhirnya
mengetahui hakikat sebenarnya dan terbukalah tabir, lalu mereka
memuji Allah kerana tidak mengalami nasib seperti Qarun.
Mereka berkata,
“Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa saja yang Dia
kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya. Kalau Allah tidak
melimpahkan kurnia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita
(pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari
(nikmat Allah).”

Nama
Qarun diulang sebanyak empat kali dalam Al-Quran, dua kali dalam surah
al-Qashash, satu kali dalam surah al-`Ankabut, dan satu kali dalam surah
al-Mu’min. Penyebutan dalam surah al-`Ankabut pada pembahasan singkat
tentang pendustaan oleh tiga orang oknum thagut, yaitu Qarun,Fir’aun,
dan Haman, lalu Allah menghancurkan mereka.
- Dan
(juga) Qarun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada
mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang
nyata. Akan tetapi, mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah
mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).
- Maka masing-masing
(mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada
yang Kami timpakan kepadanya hujan batu, kerikil dan diantara mereka ada
yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang
Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami
tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan
tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.
(al-`Ankabut: 39-40)
Penyebutan
dalam surah al-Mu’min (Ghafir) pada kisah pengutusan Musa a.s. kepada
tiga orang thagut yang mendustakannya.”Dan sesungguhnya telah Kami utus
Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada
Fir’aun, Haman, dan Qarun, maka mereka berkata;
- (Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.
(al-Mu’min:23-24)
Kesimpulan:
Trajis
harta
yang dikumpulkan Qarun selama bertahun-tahun, seperti emas, perak,
binatang ternak, istana yang megah dan bahan makanan yang melimpah, yang
selalu dihitung dan dibangga-banggakannya hilang dalam sekejap mata
ditelan bumi. Nasib tragis hartawan pada masa Nabi Musa as itu,
diabadikan Allah Swt dalam Alquran agar menjadi pelajaran bagi manusia.
Harta itu milik Allah; Diberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya
dan akan dicabut kembali bila Ia menghendakinya.
Qarun termasuk
kelompok istidraj, yakni ditangguhkan dan diundurkan kehancurannya,
dengan terus dianugerahi nikmat meski hamba itu jahat (QS. Al-A’raf:
182). Sedikitnya ada empat sifat jahat dari Qarun, yang mencelakakan,
sehingga tidak boleh satu pun kita yang memimpikan kekayaan seperti
kayanya Qarun, sepupu Nabi Musa itu.
Satu:
Ia menolak titah Nabi
Musa, untuk terus dekat Allah, hingga ajal, meski papa atau kaya. Semula
Qarun hamba Allah yang meramaikan shaf shalat dan zikir, bersama
Nabi Musa dan jamaahnya, sekitar Kairo, Mesir. Dia semula warga yang
papa dan fakir, dan mungkin saja sedang disahuti bidadari syurga, jika
mati taat saat itu. Namun terakhir, luluh juga hati Nabi Musa, saat
setiap hari ia merengek pada saudaranya Musa, agar diajarkan, sedikit
saja ilmu kimia, mungkin itu ilmu kiat mendulang emas.
Selain
ramai anak, awal kehidupan Qarun miskin betul. Sehingga selain meminta
Musa untuk mendoakannya kepada Allah, dia juga minta diajarkan ilmu
tukang emas. Ia mohon lewat kerja dan doa berupa kekayaan, harta benda,
dan Allah pun mengabulkannya. Kisahnya juga ternyata penuh kelicikan. Ia
sering mengambil harta dari Bani Israel yang lain. Maka menambah pundi
emas, dan ribuan gudang harta yang melimpah ruah, penuh berisi koin emas
dan mata uang perak.
Riya dan suka pamer
Kita
jadi ingat juga sama anak Nabi Adam lain, Qabil yang dengan riya dan
pamer, mengorbankan hartanya yang jelek dan layu, yang iri pada
saudaranya Habil. Habil yang tulus mempersembahkan ternak yang baik dan gemuk.
Akhirnya dia menumpahkan nyawa adiknya, Habil, korban perdana dalam
sejarah. Padahal seperti kita juga, Qabil juga Qarun itu, keturunan
ambiya. Qarun adalah sepupu Nabi Musa.
Konglemerat itu anak Yashar, adik
kandung Imran, ayah Musa, dalam satu riwayat. Nabi Musa dan Qarun masih
keturunan Yaqub. Keduanya cucu dari Quhas putra Lewi, yang bersaudara
dengan Nabi Yusuf bin Yaqub as, hanya berbeda ibu. Jadi biodatanya,
Qarun bin Yashar bin Qahit/ Quhas bin Lewi bin Yaqub bin Ishaq bin
Ibrahim bin Azar, dalam satu versi.
Dua:
Dia amat pelit (bakhil)
dan sombong (takabbur). Padahal Nabi Musa minta agar ia bermurah hati
pada tetangga sebelah dan tetangga jauh. Supaya ia suka berbagi, kian
sosial, bukan asosial. Sayangnya, Qarun terus menjalani dan menghitung
harta dengan congkak dan bakhil-nya. Material dan propertinya sangat
banyak, konon, sampai kunci-kunci gudang hartanya pun tidak sanggup
dipikul oleh pemuda terkuat sekalipun.
Alim ulama dan warga sering
menasihati Qarun, agar kurangi sombong dan rutin menyedekahkan sebahagian
hartanya, untuk rumah ibadah, panti, jalan raya, korban bencana, dan
pangan saudaranya. Qarun malah menampiknya, bahkan komplain:
“Buat apa
aku bersedekah? Kalau mereka miskin, itu salah mereka. Patutnya mereka
berusaha dan bekerja lebih giat lagi, seperti aku.”
Penduduk
miskin yang naif kadar imannya, merasa cemburu atas kekayaan Qarun.
Sering saat ngopi warga membandingkan keadaan mereka dengan Qarun.
“Mengapa Tuhan tidak adil...,” rintih salah seorang dari mereka. “Tuhan
memberikan harta yang banyak kepada Qarun yang tidak berperikemanusiaan.
Sedangkan kita yang miskin tidak diberi secuil harta pun.”
Teman-teman
yang lain pun mengangguk setuju. Sementara itu, mereka yang kuat imannya
tidak merasa dengki, mereka justru menyayangkan perilaku Qarun yang
bermewah-mewah dan tidak mahu memikirkan saudaranya. Khabar
angkuhnya Qarun sampai kepada Nabi Musa. Nabi umat Yahudi itu segera
mendatangi dan menasihatinya,
“Wahai Qarun, semua yang kamu miliki ini
adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya.” Qarun yang sok
menampik dan melawan, “Sesungguhnya harta yang ada padaku adalah kerana
ilmu yang ada padaku dan hasil kerja kuatku sendiri.”
Nabi Musa
masih sabar, “Semua ilmunya juga berasal dari Allah dan akan dicabut
oleh Allah kapan pun Allah mahu.” Qarun yang keras hati tetap tak
bergeming.
“Bagikan hartamu untuk fakir miskin. Bukankah Allah
memerintahkan demikian bagi mereka yang mampu?” ajak Musa.
Kala itu
Qarun masih mahu mengikuti perintah Nabi, dan agak setuju untuk membagi
sebahagian hartanya untuk fakir miskin. Negosiasi pun berlanjut dan
dijajaki, soal kalkulasi berapa harga yang mesti dikeluarkan untuk
disedekahkan. Sekembali ke istana, malamnya Qarun menghitung
kembali jumlah yang perlu dikeluarkan untuk sedekah dan zakat. Tiba-tiba
saja sifat kikir kembali menghinggapi dirinya dan menganggap jumlahnya
terlalu besar untuk dikeluarkan.
“Enak saja, aku yang bersusah payah,
kenapa harus dibagi-bagi kepada orang lain?” omelnya, usai menghitung
hartanya.
Esoknya dia menolak juga berbagi bersama warga, dan pemungut
zakat, utusan Nabi. Jadi ia hancur kerana sebab ketiga.
Tiga:
Iaitu ia
menolak menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Sehingga dia hidup serba
kaya raya. Qarun memutuskan untuk tidak menyedekahkan hartanya apa pun
risikonya. Ia malah menganggap ucapan dan anacaman Nabi Musa hanya
bualan, basa-basi, di siang bolong. Dengan tuduhan keji, bahkan ia
berseru kepada semua penduduk, bahawa Musa ingin merampas harta mereka
secara halus dengan mengatakan bahawa Allah telah mewahyukan kepadanya
perintah untuk bersedekah.
Akubatnya keempat..
Empat:
Ia mencintai dunia
berlebihan, mempamer, dan pertahankan materialnya, seperti cara
kapitalis dan lintah darat. Bahkan demi itu, dia rela menebar fitnah.
Hari-hari Qarun asyik mempamerkan berbagai macam kekayaannya seperti
rumah besar, kuda bagus, baju mewah, perhiasan mahal, kasut
kualiti, bahkan pengawal dan hamba sahaya yang cukup banyak.
Kebencian
Qarun terhadap perintah Allah dan Rasul pun, termasuk untuk bersedekah
begitu besar. Ia sanggup menjatuhkan martabat Musa di mata kaumnya,
selain tuduhan tadi. Diam-diam Qarun mengongkoskan satu wanita untuk
menyatakan dirinya telah melakukan perbuatan zina dengan Musa. Fitnah
itu pun menyebar cepat ke telinga seluruh penduduk negeri. Musa
dan para sahabat sangat terkejut begitu berita itu sampai ke biliknya.
Spontan mereka mencari wanita tersebut. “Cik adik, mengapa kau berkata
seperti itu?” tanya Musa begitu ia menemui wanita lemah itu.
“Kau
sendiri pasti tahu, Nabi Allah tidak akan melakukan perbuatan sehina
itu!” desak para sahabat.
Dengan ketakutan wanita itu menjawab: “Maafkan
aku tuan, aku hanya disuruh melakukannya.”
“Siapa? Katakan! kau
tahu, perbuatanmu itu sungguh dilaknat Allah. Minta ampunlah kepada-Nya!
Dan bersumpahlah atas nama Allah, siapa yang menyuruhmu melakukan semua
ini?”
Dengan ketakutan, wanita itu akhirnya mengakui bahawa dia
melakukan perbuatan tersebut, atas perintah Qarun, yang berjanji akan
membayar maharnya. Setelah mendengar kebohongan itu, Musa lantas
tersungkur bersujud dan berdoa agar Qarun mendapat ganjaran atas
perbuatannya merendahkan martabat seorang Nabi. Allah memerintahkan
kepada bumi untuk menenggelamkan Qarun beserta seluruh hartanya yang
melimpah, termasuk juga rumah mewahnya hanya dalam satu malam saja. Kerana
hubbud dunya, sombong, dan menantang Nabi (QS. Al-Qashash: 76-83).
Ditelan bumi
Dalam
riwayat lain dikisahkan, esoknya Musa sendiri menjumpainya, sambil
berdiri di depan istananya. Dengan tongkatnya, Musa memukul tanah, dan
mengisyaratan agar bumi menelan Qarun dan hartanya. Qarun dan koin emas,
beserta harta yang melimpah pun tenggelam. Saat mahu ludes ditelan
bumi, sebagaimana saat Fir’aun minta tolong pada Musa waktu ajal hingga
ke
leher. Dalam air Masin di Laut Merah, Qarun pun minta tolong pada Musa
agar selamat, jangan ditelan bumi.
Rayunya, “Kita saudara Musa, tolong aku!!”
Andai
minta ampun dan taubat lebih cepat lagi, sebelum ajal hamba dicabut,
taubat masih diterima, asal
bukan minta tolong pada manusia, tapi
pada Allah. Seluruh kota gempar oleh peristiwa sekejap itu. Bekas
lubang menganga ditemui di lahan bekas istana Qarun. Lenyap, tidak ada
lagi rumah mewah, ternak merumput, dan guci harta kekayaan yang pernah
terlihat sebelumnya. Semuanya telah musnah, ikut tenggelam bersama
pemiliknya.
Orang-orang yang dulu mengeluhkan keadaan mereka tidak seberuntung Qarun, berkata, kini terbalik.
“Andai saja
kami dulu hidup seperti Qarun, pastilah kami akan mengalami nasib yang
sama seperti Qarun. Demi Allah, hidup seperti ini lebih baik bagi kami
dari pada kami tenggelam ke dasar bumi seperti Qarun.”
Dulu mereka
mengomel, mengapa kita tidak kaya seperti Qarun, tapi kini mereka bersyukur pula,
sebab tidak seperti Qarun. Moga sebelum terlambat, ini menjadi pelajaran
bagi kita baik yang mencari kerang, memburu koin emas, membeli dirham
dan barang temuan lainnya, atau yang sejenis sepertinya, sepanjang zaman.
BERITA KEPADA KAWAN/EBIET G.ADE
LIhat sebelum ini..
Allahu 'aklam!